Washington, MCNID.net--Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat untuk menghentikan serangan setelah berlangsungnya perundingan tidak langsung melalui para perantara.
Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Senin (1/6/2026), Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan, melalui perwakilan tingkat tinggi, juga berkomunikasi dengan Hizbullah.
"Saya melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka sepakat bahwa seluruh aksi tembak-menembak akan dihentikan. Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka juga tidak akan menyerang Israel," tulis Trump dikutip MCNID dari Aljazeera, Kamis (4/6/2026)
Jika benar terjadi, komunikasi ini merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada presiden Amerika Serikat yang pernah berbicara dengan Hizbullah, baik secara langsung maupun melalui perantara. Saat ini, Washington masih menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris.
Menurut keterangan Kedutaan Besar Lebanon di Washington, usulan tersebut mencakup penghentian serangan Hizbullah terhadap Israel sebagai imbalan atas penghentian serangan Israel terhadap Beirut dan wilayah pinggiran selatannya.
Trump juga mengatakan bahwa Netanyahu telah menyetujui penarikan pasukan Israel yang sebelumnya bersiap melancarkan serangan ke ibu kota Lebanon, Beirut.
Namun secara terpisah, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tetap akan melanjutkan rencana serangan ke Beirut apabila Hizbullah kembali melancarkan serangan terhadap Israel.
Lalu, apa yang sebenarnya kita ketahui sejauh ini? Mengapa Pengumuman Ini Penting bagi Perang dengan Iran? Iran sebelumnya menyatakan bahwa salah satu syarat untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat adalah penarikan pasukan Israel dari Lebanon.
Kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran mulai menembakkan roket ke wilayah utara Israel setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pada akhir Februari.
Sebelumnya, sejak gencatan senjata diumumkan pada November 2024, Hizbullah tidak melakukan serangan terhadap Israel, meskipun Israel dituduh hampir setiap hari melanggar kesepakatan tersebut.
Sejak awal Maret, Israel terus melancarkan serangan hampir setiap hari ke Lebanon dan hingga kini masih menduduki sekitar seperlima wilayah negara tersebut.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak 2 Maret lebih dari 3.412 orang tewas dan 10.269 lainnya terluka akibat serangan Israel.
Eskalasi konflik ini menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi serta memunculkan kekhawatiran bahwa Israel akan memperluas operasi militernya hingga mendekati Beirut.
Pada Ahad lalu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan pertukaran pesan dengan Washington sebagai bentuk protes.
Namun setelah pengumuman Trump pada Senin, Duta Besar Lebanon untuk PBB, Ahmad Arafa, memuji pemerintahan Trump atas upaya konstruktif untuk memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi.
Pengumuman ini juga penting karena berbagai upaya gencatan senjata sebelumnya antara Israel dan Lebanon berulang kali gagal. Gencatan senjata selama 10 hari yang diumumkan pada 22 April dan kemudian diperpanjang tiga pekan tidak berhasil menghentikan pertempuran.
Bagaimana respons Hizbullah dan Israel?
Kantor Perdana Menteri Israel pada Senin menyatakan bahwa Israel tetap mempertahankan hak untuk menyerang Beirut apabila serangan Hizbullah berlanjut.
"Jika Hizbullah tidak menghentikan serangan terhadap kota-kota dan warga kami, maka Israel akan menyerang target-target teroris di Beirut," kata Netanyahu.
Pada hari yang sama, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru kepada warga di wilayah selatan Beirut.
Mereka diminta meninggalkan daerah tersebut demi keselamatan, sembari menegaskan bahwa jika Hizbullah terus menembakkan roket ke Israel, maka kawasan Dahiyeh di Beirut akan menjadi sasaran serangan.
Hingga Selasa pagi, belum ada laporan mengenai serangan Israel ke ibu kota Lebanon. Namun Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan, termasuk menembakkan artileri di sekitar Nabatieh dan menyerang desa Choukine serta Kfar Tibnit.
Sementara itu, Kedutaan Besar Lebanon di Washington merilis pernyataan yang menjelaskan bahwa Hizbullah telah menerima usulan Amerika Serikat mengenai penghentian serangan secara timbal balik.
Menurut pernyataan tersebut: "Berdasarkan pengaturan yang diusulkan, serangan Israel terhadap wilayah pinggiran selatan Beirut akan dihentikan sebagai imbalan atas komitmen Hizbullah untuk tidak melakukan serangan terhadap Israel. Kerangka gencatan senjata itu nantinya akan diperluas ke seluruh wilayah Lebanon."
Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, juga menyatakan bahwa kelompoknya mendukung gencatan senjata penuh di seluruh wilayah Lebanon.
Menurutnya, gencatan senjata tersebut akan menjadi langkah awal menuju penarikan pasukan Israel dari Lebanon.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, yang dikenal sebagai sekutu dekat Hizbullah, menyatakan bahwa ia dapat menjamin kepatuhan penuh, menyeluruh, dan segera dari Hizbullah terhadap gencatan senjata.
Namun ia mempertanyakan, "Persoalan sebenarnya adalah siapa yang akan memaksa Israel menghentikan agresinya?"
Menurut Sami Nader, analis dan Direktur Levant Institute for Strategic Affairs, serangan Israel ke Lebanon merupakan eskalasi yang sangat berbahaya dalam konflik saat ini.
"Apa yang kita saksikan adalah penghancuran infrastruktur secara sistematis. Situasinya sudah melampaui apa yang disebut sebagai 'Garis Kuning'," katanya kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, satu-satunya solusi adalah memisahkan proses gencatan senjata di Lebanon dari negosiasi terkait Iran.
"Secara praktis, hampir semua pihak kecuali Hizbullah menginginkan agar gencatan senjata Lebanon dipisahkan dari isu Iran," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemerintah Lebanon tetap membutuhkan keterlibatan internasional untuk mewujudkan gencatan senjata yang berkelanjutan.
"Garis Kuning" sendiri adalah zona militer Israel yang membentang sekitar 10 kilometer ke arah utara dari perbatasan di wilayah Lebanon selatan.
Apa arti penting komunikasi Trump dengan Hizbullah?
Menurut jurnalis Aljazeera, Ali Hashem, yang melaporkan dari Beirut bahwa ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, jika memang Trump benar-benar berbicara dengan Hizbullah dan bukan dengan salah satu sekutunya.
Ia menambahkan, langkah tersebut berpotensi menjadi titik balik dalam hubungan antara Hizbullah dan Amerika Serikat sejak dekade 1980-an.
Hizbullah, yang berarti "Partai Allah", didirikan pada 1982 untuk melawan pendudukan Israel di Lebanon selatan. Sejak konflik di Lebanon kembali memanas pada awal Maret, Amerika Serikat mengambil sikap keras terhadap Hizbullah.
Pada 24 April, Trump menuntut agar Iran menghentikan pendanaan kepada Hizbullah sebagai bagian dari setiap penyelesaian konflik regional yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan menyebut Hizbullah sebagai hambatan utama bagi perdamaian antara Israel dan Lebanon.
"Masalah antara Israel dan Lebanon bukanlah Israel atau Lebanon, melainkan Hizbullah," ujarnya bulan lalu.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, sebelumnya menolak kemungkinan pembicaraan langsung yang dimediasi Amerika Serikat dengan Israel dan menyebutnya sebagai langkah yang sia-sia.
Anggota parlemen senior Hizbullah, Hassan Fadlallah, juga pernah mengecam diplomasi yang didukung Amerika antara Lebanon dan Israel sebagai "dosa nasional" yang dapat memperdalam perpecahan di dalam negeri.
Meski demikian, pejabat Israel dan Lebanon telah mengadakan perundingan langsung pertama mereka sejak tahun 1983 pada 14 April lalu, dan sejak itu telah bertemu dua kali lagi.
Walaupun hubungan Washington dan Hizbullah selama ini penuh permusuhan, komunikasi tidak langsung sebenarnya bukan hal baru.
Selama bertahun-tahun, para pejabat Amerika kerap menggunakan tokoh-tokoh negara Lebanon, terutama Ketua Parlemen Nabih Berri, sebagai perantara dalam upaya menyelesaikan berbagai krisis regional.
Pada November 2024, Amerika Serikat juga mengandalkan Berri untuk membantu memediasi gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel di tengah perang yang sedang berlangsung di Gaza.



