Jakarta, MCNID.net--Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier, bersama Ibu Negara Elke Büdenbender, mengaku terharu saat menyaksikan langsung keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. 


Kekaguman tersebut dirasakan pemimpin negara Eropa ini saat mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta melalui Terowongan Silaturahmi.


Kunjungan diplomatik yang sarat akan pesan perdamaian ini dilakukan seusai Presiden Steinmeier diterima oleh Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka.


Didampingi Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Presiden Jerman langsung menuju Masjid Istiqlal untuk melihat dari dekat arsitektur dan aktivitas di masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.


Ada momen menarik saat berada di dalam masjid, di mana Presiden Steinmeier tampak menikmati kebudayaan Islam Indonesia dengan mencoba memukul bedug yang menjadi simbol penanda waktu salat tradisional.


​Perjalanan kemudian dilanjutkan secara simbolik melalui Terowongan Silaturahmi, sebuah struktur bawah tanah yang secara fisik dan filosofis menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta. Di ujung terowongan, rombongan tamu negara ini disambut hangat oleh Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo.


​Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa Presiden Jerman beserta istri menunjukkan kesan yang sangat mendalam sepanjang menyusuri kawasan yang menjadi ikon toleransi Indonesia tersebut.


​"Mereka sangat terharu melihat ini adalah suatu kota yang sangat ideal, ada dua rumah ibadah yang sangat bersahabat yang ditandai dengan adanya Terowongan Silaturahmi," ujar Menag Nasaruddin Umar dikutip dari laman resmi Kemenag RI, Selasa (16/6/2026). 



Di sepanjang kawasan tersebut, Presiden Jerman menyaksikan pemandangan yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Di satu sisi terdengar gaung suara bedug dari Istiqlal, sementara di sisi lain bergema dentang lonceng dari Katedral. 


Dua ruang ibadah yang saling berhadapan ini membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menciptakan jarak fisik maupun sosial.


Kardinal Ignatius Suharyo yang ikut mendampingi menjelaskan kepada Presiden Jerman bahwa harmoni ini bukanlah barang baru, melainkan visi yang sengaja dirancang oleh para pendiri bangsa sejak awal kemerdekaan.



​Kardinal menceritakan sejarah pemilihan lokasi yang sempat memicu perbedaan pendapat antara Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Bung Karno bersikeras memilih lokasi saat ini agar Masjid Negara berdiri berdampingan dengan Gereja Katedral sebagai simbol runtuhnya kolonialisme sekaligus lambang abadi kehidupan yang rukun.


​"Ini masih terus diingat sebagai lambang bahwa kita hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia yang disimbolkan oleh relasi yang terus dibangun antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral," jelas Kardinal Suharyo.


Di tengah situasi global yang saat ini rentan terhadap isu polarisasi sosial dan konflik identitas berbasis agama, kunjungan Presiden Jerman ini menegaskan posisi strategis Indonesia dalam menawarkan contoh perdamaian.


Bagi Indonesia, mengajak tamu negara menyusuri Istiqlal dan Katedral bukan sekadar agenda wisata budaya, melainkan sebuah diplomasi lunak (soft diplomacy). Indonesia ingin menunjukkan kepada para pemimpin dunia bagaimana nilai-nilai Pancasila hidup dalam ruang publik, di mana agama berfungsi sebagai pemersatu, bukan pemecah belah.


Melalui apresiasi dan rasa haru yang ditunjukkan oleh Presiden Frank-Walter Steinmeier, Indonesia kembali berhasil memperlihatkan cerita aslinya kepada dunia bahwa sebuah bangsa yang meletakkan kerukunan beragama sebagai fondasi utama bagi demokrasi yang stabil, inklusif, dan damai.