Jakarta, MCNID.net--Maraknya fenomena pemuka agama berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) seperti Ustazah Hajar mendapat respons tegas dari Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis. 


Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini mengimbau umat Islam untuk tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dalam menimba ilmu agama. Kiai Cholil menegaskan bahwa dalam tradisi Islam, proses belajar-mengajar tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mesin atau algoritma.


Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan bahwa sebuah ilmu keagamaan harus memiliki figur nyata yang jelas akuntabilitasnya.


"Saya pikir kalau kita berguru, tidak bisa berguru kepada AI. Harus jelas kepada siapa, termasuk pemiliknya siapa ya," tegas Kiai Cholil kepada MCNID, Rabu (1/7/2026). 


Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini menjelaskan lebih lanjut mengapa kecerdasan buatan tidak sah menjadi guru spiritual. Dalam Islam, keabsahan ilmu dijaga melalui ketersambungan guru keilmuan atau yang dikenal dengan istilah sanad.


Menurutnya, Ketiadaan figur nyata di balik AI membuat dua hal krusial, yakni validitas hukum dan tanggung jawab moral menjadi hilang. 


"Karena itu (AI) tidak bisa menjadi ketersambungan keilmuan atau diyakini tentang kebenarannya. Karena tidak ada yang bertanggung jawab secara pribadi tentang isi-isinya," kata CEO Amanah Zakat ini. 


Di samping masalah teologis terkait sanad, Kiai Cholil juga menyoroti kelemahan teknis dari produk dakwah AI saat ini. Berdasarkan pengamatan, materi yang disampaikan oleh dai/ustazah virtual masih sering diwarnai kesalahan fatal yang mendasar.


Kiai Cholil mewanti-wanti netizen agar tetap bersikap kritis dan tidak mudah terkecoh oleh visual atau gaya penyampaian AI yang menarik.


"Namun demikian, tentu isinya ya kita perlu mengkritisi, seperti bacaan ayatnya. Karena ada yang keliru juga atau kurang fasih, ada itu ya," ungkapnya. 


Meskipun melarang AI dijadikan rujukan, Kiai Cholil memahami mengapa sosok seperti Ustazah Hajar bisa mendadak populer dan memiliki banyak pengikut. Hal ini terjadi karena adanya titik temu antara kecanggihan teknologi dan kondisi psikologis masyarakat.


Kendati begitu, Kiai Cholil tidak menutup mata sama sekali terhadap perkembangan teknologi. Kiai Cholil memberikan catatan pengecualian di mana teknologi AI bisa saja digunakan sebagai referensi pendukung, dengan syarat memiliki ekosistem yang transparan.


"Kecuali memang di situ ya ada rujukan yang jelas, kemudian orangnya jelas, ya mungkin (bisa dijadikan referensi)," pungkasnya.