Makkah, MUI Digital--Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, menunaikan ibadah Shalat Jumat di Masjid Jami’ah Universitas Umm Al-Qura, Mekah, Arab Saudi, Jumat (5/6/2026).


Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum MUI ini menyaksikan langsung bagaimana jamaah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta para penuntut ilmu dari berbagai belahan dunia memadati ruang utama masjid. 


Mereka larut dalam khutbah Jumat yang mengulas mendalam tentang potret keteladanan Nabi Ibrahim AS.


Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini mengungkapkan, khutbah yang disampaikan oleh khatib di universitas terkemuka dunia Islam tersebut membawa pesan yang sangat menyejukkan hati sekaligus sarat akan refleksi keimanan. 


Khatib menegaskan bahwa esensi dari kisah perjuangan Nabi Ibrahim AS adalah tentang ketundukan yang tanpa celah.


"Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan kepada kita apa itu ketaatan yang paripurna. Ketika diperintah Allah SWT untuk meninggalkan keluarganya di lembah tandus Mekah, membangun Ka’bah, hingga puncaknya saat diperintah menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS, semuanya dijalankan dengan penuh kepasrahan," ujar Kiai Cholil dikutip dari akun Instagram pribadinya @cholilnafis, Sabtu (6/5/2026). 


Dari perjalanan hidup Sang Khalilullah (kekasih Allah) itu, lahir sebuah pelajaran besar bagi umat Islam di era modern. Menurutnya, iman yang sejati tidak boleh menyisakan ruang bagi keraguan.


"Iman sejati itu menuntut kepatuhan total, tanpa syarat, dan tanpa keraguan sedikit pun," tegasnya.


Menariknya, khutbah yang sarat makna ini disampaikan dengan sangat padat dan efektif. Kiai Cholil mencatat khutbah berlangsung selama 19 menit, dengan rincian khutbah pertama selama 14 menit (pukul 12.23 hingga 12.37) dan khutbah kedua selama 4 menit (pukul 12.38 hingga 12.42).


Meski berdurasi ringkas, pesan yang disampaikan sang khatib dinilai sangat kontekstual. Jamaah diingatkan agar "Semangat Ibrahimiyah" tidak menguap begitu saja setelah musim haji atau Iduladha usai, melainkan harus membumi dalam kehidupan sehari-hari.


Kiai Cholil menambahkan, implementasi ketaatan kepada Allah SWT tidak boleh berhenti pada tataran ibadah ritual semata. Totalitas penghambaan tersebut justru harus tercermin nyata dalam integritas sosial, seperti menjaga kejujuran, memegang teguh amanah, merawat kesabaran, dan keluhuran akhlak.


"Momentum Haji dan Iduladha tahun ini harus kita jadikan tonggak untuk memperkuat kembali totalitas penghambaan kita kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan, baik vertikal maupun horizontal," pungkas Kiai Cholil.