Banjarmasin, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH M Cholil Nafis, mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi ulama zaman sekarang sudah jauh berubah. Di tengah derasnya arus modernitas, ulama di lingkungan Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU) dituntut tidak hanya kokoh dalam ilmu agama, tetapi juga harus menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan modern.
Hal tersebut disampaikan Kiai Cholil terkait agenda Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) NU se-Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah yang berlangsung pada 18–21 Juli 2026 di Banjarmasin.
"Pendidikan pengembangan wawasan ulama di lingkungan Syuriyah Nahdlatul Ulama merupakan kebutuhan strategis untuk memperkuat peran Syuriyah sebagai marja’iyyah diniyyah (rujukan keagamaan) dan penentu arah kebijakan organisasi," ujar Kiai Cholil, dikutip dari akun Facebook pribadinya, Ahad (19/7/2026).
Menurut Kiai Cholil, di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks, ulama Syuriyah tidak boleh membatasi diri. Penguasaan terhadap khazanah turats (kitab klasik) dan metodologi istinbath (pembentukan) hukum tetap menjadi fondasi utama. Namun, hal itu harus diimbangi dengan pemahaman yang matang terhadap perkembangan teknologi, ekonomi, kebijakan publik, hingga hubungan internasional.
Langkah ini dinilai krusial agar setiap fatwa dan keputusan yang dilahirkan NU tetap berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman secara arif, taktis, dan kontekstual.
Sebagai otoritas tertinggi di dalam NU, Syuriyah memikul tanggung jawab besar untuk menjaga arah perjuangan organisasi agar senantiasa sejalan dengan maqashid syariah (tujuan hukum Islam) dan cita-cita para muassis (pendiri). Oleh karena itu, penguasaan ilmu modern dan teknologi akan mempertajam kemampuan ulama dalam membaca realitas sosial (fiqh al-waqi’).
Wakil Ketua Umum MUI ini menambahkan, kegiatan PPWK ini sangat penting agar arah gerak NU tetap dituntun dengan ‘ainil bashirah (mata batin yang bersih) guna melanjutkan perjuangan para muassis.
"Pengembangan wawasan ulama bukan sekadar program peningkatan kapasitas personal, melainkan investasi kelembagaan untuk menjaga kualitas kepemimpinan Syuriyah dari generasi ke generasi," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat.



