Jombang, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah KH M Cholil Nafis optimistis kepemimpinan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mampu membawa Nahdlatul Ulama menuju kemandirian ekonomi yang nyata.Ā
Latar belakang Gus Kikin sebagai putra kiai sekaligus wirausahawan sukses menjadi modal kuat dalam mengeksekusi berbagai gagasan ekonomi NU yang selama ini kerap terhambat di tingkat implementasi.
Wakil Ketua Umum MUI ini menilai, komposisi kepemimpinan NU saat ini ideal untuk menjawab tantangan zaman. Rais 'Aam KH Miftachul Akhyar memegang kendali kepemimpinan syariah (syuriyah), sementara Gus Kikin membawa kecakapan teknis (human technical skill) dan manajerial di jajaran eksekutif (tanfidziyah).
ā"Gus Kikin ini merefleksikan NU era awal saat KH Hasyim Asy'ari bersanding dengan Hasan Gipo, seorang entrepreneur. NU punya banyak ide, tapi sering kali tidak bisa dieksekusi dengan baik. Di era Gus Kikin yang memang sudah teruji dan mapan secara ekonomi, ide-ide kemandirian itu kami yakini bisa dieksekusi secara konkret," ujar Kiai Cholil, Selasa (1/9/2026).Ā
Penguatan ekonomi ini juga sejalan dengan komitmen Gus Kikin untuk mengembalikan gerakan NU pada Qanun Asasi yang dirintis sang kakek, pendiri NU KH Hasyim Asy'ari. Bagi NU, perbaikan ekonomi warga Nahdliyin bukan sekadar urusan finansial, melainkan bagian dari menjaga akidah dan eksistensi organisasi.
ā"Dalam Islam ada prinsip kadal faqru an yakuna kufran yakni kefakiran itu mendekatkan pada kekufuran. Karena itu, menjaga kesejahteraan warga dan mengentaskan kemiskinan adalah bagian mendasar dari menjaga eksistensi Ahlussunnah wal Jama'ah," tegasnya.Ā
Kiai Cholil berharap, kemandirian ekonomi yang digagas bisa berdampak langsung pada isu-isu strategis nasional, mulai dari pengentasan kemiskinan ekstrem, penanganan stunting, hingga penciptaan lapangan kerja di basis-basis warga NU di seluruh Indonesia.
Mengenai pengelolaan potensi bisnis organisasi, termasuk sektor pertambangan dan badan usaha NU, Kiai Cholil menekankan bahwa seluruh unit usaha akan dikaji secara komprehensif. Kiai Cholil menjelaskan, PBNU memegang teguh kaidah bahwa pendapatan organisasi harus bersumber dari hal-hal yang halal, tidak mengikat, dan tidak merusak kepentingan umum.
"Prinsipnya ad-dararu yuzal, segala bentuk kemudaratan harus dihilangkan. Jika ada bisnis yang mudaratnya lebih besar, pasti kita evaluasi dan tinggalkan. Namun kita juga tidak apriori, semua peluang usaha dikaji agar bisa berdampak positif bagi ekonomi warga tanpa merusak lingkungan," kata Kiai Cholil.



