Jakarta, MCNID.net--Memilih pasangan hidup yang taat beragama kerap menjadi parameter tunggal bagi sebagian besar umat Islam saat mencari jodoh.
Namun, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengingatkan adanya 'jebakan' dalam cara pandang tersebut.
Menurutnya, kesalehan ritual tanpa dibarengi dengan akhlak yang baik justru bisa menjadi bom waktu yang merusak keharmonisan rumah tangga.
Kiai Cholil menegaskan, pernikahan adalah pintu gerbang yang akan menentukan masa depan kebahagiaan seseorang serta kualitas keturunan yang dilahirkan.
Oleh karena itu, Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk melihat faktor agama, tetapi juga menaruh perhatian besar pada aspek moral atau karakter personal calon pasangan.
"Dari hadits-hadits Nabi menunjukkan bahwa dalam memilih jodoh ada dua hal yang sangat penting, yaitu hanya menerima orang yang beragama dan berakhlak sebagai pasangan hidup. Rasulullah tidak cukup hanya dengan menyebutkan agama semata," ujar Kiai Cholil dalam bukunya berjudul: Fikih Keluarga Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah, dikutip Rabu (3/6/2026)
*Mengapa Taat Agama Saja Tidak Cukup?*
Kiai Cholil membeberkan realitas di mana ada individu yang tampak sangat taat menjalankan syariat agama secara formal, namun memiliki cacat dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Kondisi inilah yang kerap memicu konflik dalam hubungan suami istri.
"Terkadang ada orang yang taat beragama tetapi akhlaknya tidak cukup baik untuk kehidupan rumah tangga, bahkan berakhlak tercela, berwawasan sempit, serta fanatik buta," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat.
Dampak dari ketimpangan ini, lanjut Kiai Cholil, adalah munculnya tindakan-tindakan semena-mena dalam rumah tangga. Seseorang yang minim akhlak namun merasa paham agama cenderung akan meletakkan dalil-dalil agama di samping ego pribadinya, lalu menggauli pasangannya dengan cara yang kasar atau tidak baik.
Lebih jauh, Ketua Badan Pengurus DSN MUI ini mengkritisi dampak sosial yang muncul akibat fenomena tersebut. Seringkali, masyarakat salah kaprah dan mengambinghitamkan agama ketika melihat ada sosok 'religius' yang memperlakukan pasangannya dengan buruk.
"Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku buruk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena agama jelas-jelas memerintahkan untuk mempergauli istri secara baik," tegas Kiai Cholil.
CEO Amanah Zakat ini meluruskan bahwa watak keras, kaku, atau kasar dalam rumah tangga murni disebabkan oleh moralitas individu yang bersangkutan, bukan karena ajaran Islam.
"Tingkah laku seperti itu bukan disebabkan karena agama, tetapi disebabkan oleh akhlak yang buruk. Artinya, keberadaan akhlak yang baik sangat penting sekali untuk bersanding dengan agama. Dengan akhlak, mayoritas muamalah (interaksi) akan dilakukan antara suami istri," tambahnya.
Sebagai panduan bagi generasi muda yang sedang menyaring calon pendamping, Kiai Cholil mengingatkan kembali pesan Rasulullah SAW yang menyeimbangkan antara faktor keturunan, harta, fisik, serta agama. Mengutamakan agama dan akhlak adalah investasi kebahagiaan yang hakiki.
Selain itu, ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur pada 1 Juni 1975 ini juga mengingatkan para orang tua atau wali agar tidak menolak pinangan dari seseorang yang sudah terbukti memiliki kombinasi ideal ini.
Merujuk pada HR. Tirmidzi, jika ada pelamar yang diridai agama dan akhlaknya namun ditolak, dikhawatirkan akan timbul fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.
"Perintah Rasulullah SAW agar kita memilih pasangan hidup yang memiliki agama bukanlah sekadar perintah teologis. Lebih dari itu, Rasulullah menghendaki setiap keluarga yang dibentuk akan menjadi keluarga yang harmonis, bahagia, dan melahirkan anak keturunan yang berkualitas," pungkasnya.



