Jakarta, MCNID.net--Momentum pergantian Tahun Baru Hijriah selalu membawa memori kolektif tentang perjalanan besar umat Islam terdahulu.


Menyambut hari bersejarah tersebut, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengulas kembali latar belakang sejarah dan alasan fundamental mengapa para sahabat Nabi memilih peristiwa hijrah sebagai fondasi utama penanggalan Islam.


Kiai Cholil menjelaskan bahwa penamaan kalender Islam yang dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW bukan terjadi secara kebetulan. Ada esensi teologis dan historis yang sangat kuat di balik keputusan para pendahulu Islam tersebut.



“Nabi itu hijrah dari Makkah ke Madinah, dan itu menjadi nama tahun. Sebenarnya kan tahun ini sudah ada sejak dunia ini ada, tapi nama Hijriah itu dihitung dari hijrah Nabi,” ujar Kiai Cholil Nafis di Jakarta, Ahad (14/6/2026).


Menurut Kiai Cholil, para sahabat memilih momentum hijrah karena peristiwa tersebut merupakan puncak refleksi keimanan yang paling nyata.


Hijrah bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah keputusan besar yang sarat akan pengorbanan harta, benda, keluarga, bahkan taruhan nyawa demi mempertahankan akidah.



Nilai perjuangan yang amat besar inilah yang dinilai paling layak untuk diabadikan sebagai awal mula perhitungan waktu bagi umat Islam.


“Karena hijrah itu menunjukkan tentang keimanannya. Rela meninggalkan keluarga, harta, tempat demi iman kepada Allah dan Rasul-Nya,” jelasnya.


Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menegaskan bahwa nilai sejarah tersebut harus ditarik relevansinya ke masa kini.


Di era modern, umat tidak lagi diminta melakukan perpindahan fisik secara geografis seperti masa kenabian, melainkan melakukan hijrah secara pemikiran dan perilaku.


kiai Cholil mengatakan, nilai pengorbanan yang dicontohkan dalam sejarah harus diwujudkan dalam bentuk kerelaan mengikis ego pribadi demi kemaslahatan masyarakat luas.


“Sekarang hijrah itu tidak lagi soal tempat, tapi bersoalan orientasi berpikir. Dari berpikir yang mungkin sifat duniawi semata menjadi terinspirasi, terisi dengan spiritual,” tambah Kiai Cholil.


Kiai Cholil mengajak umat Islam menjadikan kilas balik sejarah ini sebagai pemantik semangat untuk memperbarui komitmen hidup. Menurutnya, cara terbaik menghormati sejarah hijrah adalah dengan melanjutkan spirit perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari.



“Semangat hijrah adalah menjadi semangat kita mengabdikan hidup, mengabdikan waktu untuk hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, berjuang di jalan Allah,” pungkasnya.