Jakarta, MCNID.net--Institusi pendidikan Islam modern dituntut untuk melakukan transformasi dalam menyusun peta jalan akademisnya. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asep Saepudin Jahar, menegaskan bahwa era pemisahan atau dikotomi antara ilmu agama dan sains sudah harus diakhiri demi melahirkan generasi yang adaptif terhadap problematika global.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Prof Asep dalam kapasitasnya sebagai tuan rumah sekaligus Presiden The Asian Islamic Universities Association (AIUA), saat membuka perhelatan internasional International Seminar and The 15th Annual General Meeting AIUA di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta.
“Kami tidak lagi mengenal dikotomi antara ilmu agama dan sains. Justru, kami mengintegrasikan keduanya agar saling menguatkan. UIN Jakarta berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya mendalami ilmu keagamaan secara mendalam, tetapi juga menguasai teknologi dan memiliki semangat kewirausahaan yang moderat, humanis, serta solutif terhadap problematika global,” kata Prof Asep, Rabu (24/6/2026) di hadapan ratusan delegasi dari berbagai negara Asia.
Menurut Prof Asep, integrasi keilmuan ini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan sebuah keharusan strategis. Kampus Islam masa kini tidak boleh menutup mata dari kemajuan zaman jika ingin melahirkan lulusan yang berdaya saing tinggi.
Pandangan progresif Rektor UIN Jakarta ini selaras dengan arahan yang dipaparkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004–2009 dan 2014–2019, H M Jusuf Kalla, yang hadir sebagai keynote speaker.
Jusuf Kalla mengingatkan bahwa kekuatan umat Islam di masa depan akan rapuh jika sektor pendidikan tinggi hanya fokus pada satu aspek keagamaan tanpa diimbangi dengan penguasaan inovasi teknologi dan kemandirian ekonomi.
“Kekuatan kita tidak akan maksimal jika hanya bertumpu pada aspek agama saja tanpa kemajuan teknologi dan ekonomi. Ekonomi yang kuat adalah fondasi bagi keberlangsungan dakwah dan sosial. Kita harus belajar dari model pendidikan yang mampu menyandingkan agama dengan kemajuan sains," ujar Jusuf Kalla dalam pidatonya.
Jusuf Kalla bahkan mengajak civitas akademika memaknai ulang filosofi doa "Sapu Jagat" sebagai dorongan spiritual untuk meraih kebahagiaan di dunia melalui penguasaan sains dan inovasi sebelum menuju kebahagiaan akhirat.
Guna memayungi semangat penghapusan dikotomi keilmuan serta dorongan inovasi tersebut, Prof Asep mengungkapkan bahwa UIN Jakarta kini sedang melangkah mantap di tahap akhir transisi kelembagaan menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).
Status PTNBH ini dinilai sebagai instrumen krusial agar kampus memiliki fleksibilitas dan kelincahan dalam mengembangkan riset-riset berbasis integrasi sains dan agama, sekaligus membuka ruang kolaborasi kewirausahaan yang lebih luas.
“PTNBH adalah instrumen krusial bagi kami untuk menjadi lebih mandiri, lincah, dan kompetitif. Semangat kewirausahaan yang didorong oleh Bapak Jusuf Kalla sejalan dengan visi PTNBH kami, di mana pendidikan tinggi harus menjadi pusat inovasi, teknologi, dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas,” jelasnya.
Sebagai informasi, forum internasional AIUA 2026 yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026 ini dihadiri oleh sekitar 150 hingga 200 delegasi. Mereka mewakili lebih dari 40 perguruan tinggi Islam yang tersebar di tujuh negara Asia, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Melalui pertemuan ini, para pimpinan kampus se-Asia ditargetkan dapat merumuskan cetak biru pendidikan Islam yang inklusif, damai, dan bebas dari sekularisasi ilmu pengetahuan.



