Jakarta, MCNID.net--Jelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), tensi dan dinamika kepemimpinan di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut kian terasa. Sejumlah tokoh nasional dan kiai yang namanya santer diisukan masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tampak berkumpul dalam satu panggung.
Momen hangat tersebut terjadi saat peluncuran buku karya Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin, berjudul "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.
Di antara deretan tokoh penting yang hadir, publik menyoroti kehadiran figur-figur kuat yang belakangan ramai diperbincangkan menjelang Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026 mendatang.
Di antaranya adalah Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.
Tak hanya itu, hadir pula jajaran ulama dan Dewan Pimpinan MUI yang juga dinilai memiliki peran strategis seperti Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis dan Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun N'iam Sholeh.
Kehadiran para kandidat potensial dan tokoh senior NU dalam satu forum ini dinilai hadir pada momentum yang sangat krusial. Selain menjadi ajang silaturahmi para masyayikh, acara ini mempertemukan gagasan besar Kiai Ma'ruf Amin tentang arah gerak NU di abad keduanya, sebuah topik yang dipastikan menjadi bahan diskusi utama para calon pemimpin NU ke depan.
Peluncuran karya setebal lebih dari 600 halaman yang ditulis oleh Hj Siti Haniatunnisa dan H Muhammad Zainal Arifin ini turut disaksikan oleh kiai sepuh lainnya, seperti Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta KH Abun Bunyamin dan Ulama Kharismatik Banten Abuya Muhtadi.
Tampak pula Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjend MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S. Karni.
Di hadapan para calon pemimpin dan ulama yang hadir, buku ini menjadi pengingat penting bahwa kepemimpinan NU ke depan harus tetap berpegang teguh pada khittah, garis perjuangan yang telah diletakkan para pendiri (mā 'alaihim mu'assisūn).
Dalam pengantarnya, Kiai Ma'ruf menegaskan agar NU tidak dipandang sekadar sebagai organisasi administratif, melainkan sebuah sistem keumatan yang hidup.
"NU adalah sistem yang hidup. Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan)," tegas Kiai Ma'ruf.
Penulis buku yang juga putri bungsu Kiai Ma'ruf, Hj Siti Haniatunnisa, mengungkapkan bahwa narasi utama buku ini berangkat dari pertanyaan mendasar Kiai Ma'ruf mengenai masa depan NU: "Fa-aina tadzhabūn?" (Maka ke manakah kamu akan pergi?).
"Beliau berharap warga dan pimpinan NU tidak hanya mewarisi organisasi, tetapi juga mewarisi cara berpikir para ulama, mewarisi manhaj para ulama, dan mewarisi ruh khidmat para muassis," ungkap Siti Hani saat memberikan sambutan.
Buku ini merangkum pemikiran Kiai Ma'ruf Amin selama lebih dari lima dekade berkiprah di lingkungan NU. Karya ini menekankan bahwa gerakan Nahdhiyyah harus mencakup tiga fungsi utama: Himāyah (menjaga), Iṣlāḥ (memperbaiki), dan Taqwiyah (menguatkan), yang diterapkan di bidang keagamaan (harakah diniyyah), kebangsaan (harakah waṭhaniyyah), dan ekonomi (harakah iqtiṣādiyyah).
Sektor kemandirian ekonomi menjadi salah satu porsi khusus, merujuk pada sejarah Nahḍat at-Tujjār (1918) hingga konsep modern seperti Gerakan Koin NU dan tasyri'iyyah al-iqtisadiyyah (penerapan fikih muamalah dalam kebijakan ekonomi syariah nasional).
Pertemuan para tokoh yang diisukan bakal bertarung dalam Muktamar ke-35 NU ini menjadi sinyal bahwa siapa pun yang kelak memimpin PBNU, tantangan utamanya adalah menjaga keberagamaan umat agar tidak berjalan sekadar sebagai tradisi (amaliyah), melainkan gerakan yang terarah berdasar pada manhaj dan pemahaman yang kuat ('alā baṣhīrah).



