Bogor, MCNid— Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Dr Alim Setiawan Slamet, menyebut acara halal bi halal menjadi momen melengkapi kemenangan setelah melaksanakan ibadah pada Ramadhan dengan saling memaafkan atas segala kesalahan di antara sesama.

Hal ini disampaikannya dalam acara Halal bi Halal yang digelar IPB University bagi civitas akademika dengan menghadirkan Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis untuk memberikan tausiyah.

Acara yang mengangkat tema "Jernihkan Hati, Eratkan Silaturahim, Perkuat Kolaborasi" ini digelar di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB University, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026).


"Kalau kita boleh sebut ini sebagai riset kolektif, membersihkan gesekan yang tak terelakan selama kita bekerja bersama. Memaafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan agar kita melangkah kembali dengan hati yang lapang dan langkah yang lebih ringan," ujarnya.

Alim menerangkan, selama melaksanakan ibadah puasa maupun ibadah lainnya pada Ramadhan, diharapkan menghasilkan manusia yang lebih baik. Terutama menjadi manusia yang bertakwa, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran.

Rektor IPB University menekankan pentingnya nilai takwa sebagai fondasi dalam membangun kolaborasi, integritas, serta semangat berkarya di lingkungan akademik.

Ia menyampaikan bahwa Ramadhan telah melatih empat nilai utama yang menjadi esensi takwa, yakni tawadhu, qana’ah, wara, dan yaqin. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk memperkuat budaya akademik yang kolaboratif sekaligus berintegritas.

“Tawadhu menjadi kunci dalam membangun kolaborasi lintas disiplin. Kolaborasi hanya bisa lahir dari kerendahan hati untuk saling belajar,” ujarnya.

Menurutnya, qanaah juga penting agar sivitas akademika tidak terjebak pada sekadar mengejar indikator seperti ranking atau publikasi, tetapi tetap berorientasi pada kontribusi nyata bagi bangsa.

“Kita harus terus bertanya, untuk siapa kita berkarya? IPB ada untuk Indonesia,” tegasnya.

Nilai wara ditegaskan sebagai bentuk integritas akademik. Dia mengingatkan pentingnya kejujuran dalam riset dan keberanian menjaga kebenaran, bahkan saat tidak ada yang mengawasi.

Adapun yaqin, menurutnya, menjadi energi utama dalam menghadapi ketidakpastian. “Kita harus yakin bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan memberi dampak di masa depan,” katanya.

Melatih kesetaraan

Puasa Ramadhan dinilai melatih kesetaraan untuk menunaikan ibadah bagi setiap Muslim tanpa memandang jabatannya. Sebab semua umat Muslim yang bergelar presiden hingga rakyat merasakan hal yang sama yakni menahan diri, terutama dari rasa haus dan lapar.

Dalam konteks pendidikan tinggi dan IPB University, Alim menerangkan konsep tawadhu memiliki dimensi yang sangat kongkret, yaitu tidak ada superioritas keilmuan di antara kita.

Dia menegaskan tidak ada disiplin ilmu yang lebih mulia dari yang lain. Menurutnya, sains dan teknologi sama pentingnya dengan sosial dan humaniora. Begitu juga dengan contoh disiplin keilmuan lainnya.

Dia menyoroti kondisi global saat ini yang penuh tantangan. Kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan oleh disiplin ilmu secara sendirian, melainkan harus berjalan bersama dengan disiplin ilmu lainnya.

"Krisis pangan menyentuh kebijakan publik, juga psikologi petani, budaya lokal dan teknologi sekaligus. Perubahan iklim membutuhkan sains, etika, hukum, dan juga pemberdayaan masyarakat bersama-sama," kata dia.

Alim menegaskan, kolaborasi lintas disiplin ilmu bukan sekedar pilihan, melainkan keharusan dan kolaborasi yang sejati hanya bisa lahir dari komunitas yang tawadhu yang tidak merasa ilmunya yang paling penting.

"Mau duduk setara, yang rela belajar dari perspektif berbeda. Inilah mengapa tawadhu menjadi nilai strategis. Justu di saat ini ketika IPB sedang menjalani transformasi keilmuan dan kelembagaan yang nyata. Transformasi semacam ini tidak bisa berjalan dengan ego keilmuan yang tinggi," ungkapnya.

Alim menekankan, tranformasi tersebut membutuhkan kesediaan untuk melepas sekat-sekat yang lama, saling mengakui bahwa tidak ada satu pun dari kita yang cukup lengkap sendirian," tegasnya.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, mengingatkan pentingnya memiliki kejernihan hati bagi umat Islam setelah melaksanakan ibadah pada Ramadhan.

Ulama kelahiran Sampang, Madura, pada 1 Juni 1975 ini menjelaskan, kejernihan hati membuat seseorang tidak memiliki rasa iri, dengki dan sombong, serta hidupnya hanya untuk meraih ridha Allah SWT.

Selain itu, Kiai Cholil menerangkan, orang yang memiliki kejernihan hati sudah pasti memiliki kecerdasan dalam hidupnya. Sementara orang cerdas, belum tentu memiliki kejernihan hati.

"Acara Halal bi Halal tidak hanya seremonial, melainkan upaya untuk merawat kejernihan hati, antara lain, dengan saling silaturahim dan saling memaafkan. Kejernihan hati juga akan melahirkan kecerdasan, terutama kecerdasan untuk menyelesaikan masalah," kata Kiai Cholil.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan, pengembangan diri manusia juga berangkat dari kejernihan hatinya.

Menurut dia, kejernihan hati sangat penting bagi umat Islam, terutama mengenai tauhid, dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari dengan baik.

"Apabila sudah memiliki kejernihan hati dan bisa memilihara tauhid, hidup kita hanya kepada Allah. Ketika melakukan penelitian, bukan karena ingin dikutip, melainkan karena melaksanakan perintah Allah. Tidak ada kepentingan duniawi, tidak ada kepentingan diri, tapi semata-mata berpasrah diri kepada Allah," ujarnya.

Ikhlas dan yakin

Selama Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa yang melatih diri mengenai keyakinan dan keikhlasan. Salah satu sebabnya, seseorang yang berpuasa tidak bisa mengetahui amal ibadah puasanya dapat diterima atau tidak oleh Allah SWT.

"Dalam melaksanakan ibadah puasa, umat Islam diajarkan untuk memiliki rasa ikhlas dan yakin puasanya dapat diterima, selama puasanya itu benar, menjalankan kewajiban berdasarkan Alquran dan Hadist, dan hanya untuk Allah," terangnya.

Kiai Cholil menjelaskan, secara umum mengenai keyakinan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu ilmul yaqin (keyakinan berdasarkan ilmu/informasi), 'ainul yaqin(keyakinan berdasarkan penglihatan/bukti), dan haqqul yaqin(keyakinan berdasarkan pengalaman langsung/kebenaran hakiki).

"Dalam konteks ini, perbuatan kita di dunia ini seakan-akan melihat Allah, minimal kita merasa dilihat Allah. Bisa tidak kita berperilaku ihsan, bukan karena manusia, tetapi karena Allah. Begitu juga dalam memperlakukan manusia, harus karena Allah, bukan karena manusia, apalagi karena jabatannya," ujarnya. (Sadam, ed: Nashih)