Jakarta, MCNID.net--PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) sukses menuntaskan transformasi besar pada sistem Information Technology (IT) melalui migrasi core banking dari R10 ke sistem R24 yang lebih modern. Langkah strategis yang rampung pada pertengahan Mei 2026 ini berhasil mendongkrak efisiensi operasional perseroan hingga mencapai sekitar 80 persen.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan bahwa transformasi teknologi ini merupakan kebutuhan mendesak di tengah pesatnya digitalisasi industri keuangan nasional. Terlebih, BSI kini telah mengukuhkan posisi dalam jajaran 5 besar bank terbesar di Indonesia.
“Ekspektasi nasabah adalah layanan dan sistem harus sama dengan bank besar. Untuk itu, kami berupaya menyediakan layanan setara sesuai ekspektasi nasabah. Ruang untuk menumbuhkan nasabah dan inovasi untuk fitur baru di BYOND kini sangat luas karena kapasitas sistem yang terpakai saat ini masih di bawah 10 persen,” ujar Anggoro dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Proyek migrasi teknologi raksasa ini tercatat sebagai salah satu tonggak sejarah penting BSI dengan melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi. Seluruh proses transisi dilakukan secara bertahap melalui serangkaian uji coba (rehearsal) yang matang.
Guna memastikan implementasi berjalan aman, terkendali, dan transparan, proyek ini berjalan di bawah pengawasan ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta supervisi aktif dari Danantara.
Selain memangkas waktu proses penutupan buku (Close of Business/COB) dan menaikkan efisiensi hingga 80 persen, infrastruktur baru ini terbukti tangguh menjaga stabilitas layanan. Saat ini, tingkat kesiapan (availability) seluruh jaringan transaksi BSI berada di angka impresif 99,99 persen, memastikan kenyamanan nasabah baik di kantor cabang maupun kanal digital.
Peningkatan kapasitas IT ini langsung berdampak positif pada keandalan super-app ritel BYOND by BSI serta platform wholesale BEWIZE by BSI. Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI telah memikat lebih dari 10 juta pengguna dengan akumulasi nilai transaksi fantastis melampaui Rp450 triliun.
Transformasi teknologi ini juga berjalan selaras dengan performa keuangan BSI yang terus bertumbuh solid. Didorong oleh lini bisnis baru sebagai "Bank Emas" dan peningkatan status menjadi Persero di awal tahun, jumlah total nasabah BSI melonjak melampaui 24 juta per April 2026.
Hingga Mei 2026, BSI berhasil membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun atau tumbuh 16,73 persen secara tahunan (Year on Year/YoY). Pada periode yang sama, aset bank syariah terbesar di Indonesia ini melesat ke angka Rp444 triliun, disokong oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun serta penyaluran pembiayaan berkualitas yang mencapai Rp335 triliun.
"Dengan dukungan ekosistem yang semakin kuat bersama Danantara, transformasi teknologi yang telah selesai, serta model bisnis yang terus berkembang, BSI optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional yang modern, inklusif, dan kompetitif," tutup Anggoro.



