Jakarta, MCNID.net--Kepala Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia, Gita Sabharwal, memberikan apresiasi mendalam terhadap rekam jejak diplomasi Indonesia di panggung dunia. PBB menilai Indonesia memiliki tradisi kepemimpinan internasional yang sangat kuat, konsisten, dan diakui secara global dari generasi ke generasi.
Hal tersebut dipaparkan Sabharwal saat memberikan pidato dalam peringatan International Day for Dialogue among Civilizations (Hari Dialog Antar Peradaban Internasional) yang berlangsung di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Dalam sapaannya di hadapan para tokoh, Sabharwal secara khusus menarik benang merah sejarah diplomasi Indonesia yang dinilainya luar biasa. Ia mengaitkan warisan pemikiran masa lalu dengan komitmen pemerintah saat ini.
"Indonesia memiliki rekam jejak sejarah yang sangat kuat dan diakui dunia, mulai dari pidato monumental Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB hingga ketegasan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Umum PBB tahun 2025 lalu," ujar Sabharwal.
Menurut Sabharwal, rentetan sejarah tersebut menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak pernah bergeser dari prinsipnya. "Indonesia telah menunjukkan konsistensi yang luar biasa bahwa dialog dan diplomasi adalah alat terkuat kita demi keamanan dan kemanusiaan," tambahnya.
Agenda strategis yang digelar oleh Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama DPR RI dan DPD RI ini mengusung tema "Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia".
Acara ini sengaja diinisiasi sebagai respons atas eskalasi konflik global dan kebuntuan komunikasi antarnegara yang kian memprihatinkan akhir-akhir ini.
Di tengah situasi dunia yang rentan terhadap perpecahan tersebut, Sabharwal menyebut bahwa Indonesia telah memberikan contoh konkret selama lebih dari tujuh dekade.
Indonesia dinilai konsisten menjaga keamanan multilateral di bawah bendera PBB dengan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian (peacekeepers) ke berbagai wilayah konflik.
Sabharwal bahkan secara khusus menyampaikan rasa hormat tertinggi atas gugurnya tiga personel pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon Selatan pada tahun 2026 ini sebagai bukti pengorbanan nyata tersebut.



