Ramadhan menghadirkan suasana yang khas dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Masjid-masjid mengumandangkan lantunan ayat suci. Tadarus digelar hampir di setiap sudut kampung. Mushaf al-Quran dibaca di rumah-rumah, di musala, bahkan di ruang-ruang publik. Ramadhan selalu menguatkan kembali hubungan umat Islam dengan kitab sucinya.

Tidak mengherankan jika bulan ini dikenal sebagai syahrul qur’an, bulan ketika al-Quran pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Namun, di tengah suasana religius yang hangat itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur: seberapa banyak umat Islam yang benar-benar mampu membaca al-Quran dengan baik?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat realitas literasi al-Quran di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, kemampuan membaca al-Quran seharusnya menjadi sesuatu yang sangat umum. Tetapi, data justru menunjukkan gambaran yang tidak sederhana.

Meningkatkan budaya membaca

Hasil kajian Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta 2024 menunjukkan, persentase buta aksara al-Qur’an di Indonesia mencapai 58 persen sampai dengan 65 persen. Sementara data Index Literasi al-Quran Kementerian Agama 2023 menunjukkan, hanya 44,57 persen umat Islam yang mampu membaca ayat dengan lancar sesuai tajwid.

Data ini menggambarkan sebuah paradoks yang cukup tajam. Di negeri yang dihuni muslim terbesar di dunia, kemampuan membaca kitab sucinya justru rendah. Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai persoalan teknis semata. Ia mencerminkan sebuah krisis literasi yang lebih mendasar dalam kehidupan keagamaan kita. Ketika kemampuan membaca al-Quran menurun, maka hubungan umat dengan sumber nilai dan inspirasi peradabannya juga ikut melemah.

Padahal, jika kita kembali pada wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, kita akan menemukan pesan yang sangat fundamental. Kata pertama yang turun adalah iqra, bacalah. Perintah ini sering dipahami secara sederhana sebagai membaca teks. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam, makna iqra jauh lebih luas dan mendalam.

Pertama adalah membaca narasi. Ini adalah kemampuan dasar untuk membaca teks Al-Quran sebagaimana ia diturunkan. Di sinilah pentingnya kemampuan literasi dasar, mengenal huruf, dan memahami struktur bahasa.

Kedua adalah tadabbur, yaitu merenungkan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Quran. Membaca tidak berhenti pada lisan, tetapi harus turun ke dalam kesadaran dan pemahaman.

Ketiga adalah membaca fenomena. Al-Quran berkali-kali mengajak manusia untuk memperhatikan alam semesta, perjalanan sejarah, dan dinamika kehidupan sosial. Dengan kata lain, membaca dunia juga merupakan bagian dari menjalankan perintah iqra.

Karena itu, membaca dalam perspektif al-Quran sebenarnya adalah proses yang utuh: membaca teks, memahami makna, lalu menerjemahkannya dalam pemahaman terhadap realitas kehidupan.

Sinergi iman dan intelektualitas

Dalam konteks inilah literasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan pembangunan peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaannya ketika tradisi membaca, berpikir, dan meneliti berkembang secara luar biasa. Ilmuwan, filsuf, dan ulama lahir dari budaya intelektual yang kuat, yang berakar pada semangat iqra.

Namun peradaban tidak hanya dibangun oleh intelektual semata. Ia juga membutuhkan fondasi spiritual yang kuat. Karena itu, keseimbangan antara iman dan intelektual menjadi sangat penting. Iman memberikan arah moral dan spiritual bagi kehidupan manusia. Ia menjadi kompas yang menjaga manusia agar tidak kehilangan tujuan hidup. Sementara intelektual memberikan kemampuan berpikir kritis dan mendalam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ketika dua unsur ini berjalan seimbang, lahirlah masyarakat yang tidak hanya religius secara spiritual, tetapi juga maju secara intelektual.

Sebaliknya, ketidakseimbangan antara keduanya dapat melahirkan problem serius. Iman tanpa intelektual sering kali melahirkan fanatisme buta atau ta’assub. Sementara intelektual tanpa iman dapat melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah. Karena itu, tradisi Islam juga menekankan pentingnya tafakkur, yaitu proses berpikir dan merenung secara mendalam.

Sebagai tamsil, al-Quran mengingatkan manusia tentang asal-usul penciptaannya, bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah (min ‘alaq). Pengingat ini bukan sekadar penjelasan biologis tentang asal-usul manusia. Ia merupakan ajakan untuk menyadari hakikat diri manusia: makhluk yang pada awalnya lemah, tetapi dianugerahi kemampuan berpikir, belajar, dan memahami. Dari kesadaran inilah lahir kerendahan hati intelektual sekaligus dorongan untuk terus mencari pengetahuan.

Dalam tradisi spiritual Islam terdapat ungkapan yang sangat terkenal: man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Mengenal diri berarti memahami keterbatasan, potensi, dan tanggung jawab kita sebagai manusia. Kesadaran inilah yang kemudian menghubungkan iman dengan intelektualitas, sehingga pencarian ilmu tidak hanya melahirkan kecerdasan, tetapi juga kedewasaan spiritual.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali hubungan umat dengan al-Quran. Bukan hanya dengan memperbanyak tilawah, tetapi juga dengan menghidupkan kembali tradisi membaca, merenung, dan memahami. Peradaban besar tidak lahir dari masyarakat yang berhenti membaca. Ia lahir dari masyarakat yang menjadikan membaca sebagai tradisi hidup.

Dalam sejarah Islam, semangat iqra telah berhasil melahirkan mercusuar peradaban Islam yang memberi kontribusi besar bagi kemajuan dunia dan ilmu pengetahuan. Jika Ramadhan ingin dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan, maka bulan ini harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi literasi al-Quran. Sebab, dari tradisi membaca inilah masa depan peradaban umat akan ditentukan. []