Jakarta, MCNID.net--Cendekiawan Muslim, Prof Din Syamsuddin, melayangkan kritik tajam terhadap model diplomasi dan forum dialog internasional yang diinisiasi oleh lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Din menilai berbagai pertemuan tersebut sering kali terjebak dalam formalitas tanpa menyentuh akar masalah konflik global.


Pernyataan tersebut disuarakan Din Syamsuddin dalam peringatan International Day for Dialogue among Civilizations (Hari Dialog Antar Peradaban Internasional) yang digelar oleh Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Acara yang bekerja sama dengan DPR RI dan DPD RI ini berlangsung di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026), dengan mengusung tema "Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia".


Di hadapan para tokoh agama, perwakilan negara sahabat, dan anggota parlemen, Din mengungkapkan keprihatinannya atas fakta adanya lebih dari 120 konflik bersenjata yang saat ini berkecamuk di dunia, termasuk tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Palestina di Gaza selama dua tahun terakhir.

Menurutnya, tingginya angka konflik ini menjadi bukti nyata adanya kebuntuan komunikasi antarnegara. Ia menyoroti gerakan dialog antaragama (interfaith dialogue) maupun forum Alliance of Civilizations yang dibentuk PBB sejak tahun 2004 silam, yang dinilai belum efektif meredam ketegangan dunia.


"Berdasarkan pengamatan mendalam saya, dialog-dialog yang terjadi selama ini sejatinya hanyalah dua, tiga, empat, atau lima monolog yang berjejer," kritik Din secara terbuka.

Ia menilai para delegasi dunia kerap datang ke forum internasional hanya untuk berbicara dari sudut pandang masing-masing tanpa ada kemauan nyata untuk saling mendengarkan dan mencari jalan keluar bersama.


Sebagai langkah konkret keluar dari lingkaran setan (vicious circle) konflik global, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mendesak PBB dan komunitas internasional untuk merevolusi metode komunikasi mereka melalui konsep "Dialog Dialogis."


"Saya ingin mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam momentum Hari Dialog Antar Peradaban Internasional ini untuk mengembangkan jenis dialog yang dialogis. Dialog yang benar-benar bertumpu pada pemecahan masalah (problem solving)," tegas Din.


Menurut Din, sebuah dialog baru bisa membuahkan perdamaian jika dibangun di atas tiga pilar utama, yakni ketulusan, keterbukaan dan keterusterangan. 


Din Syamsuddin menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk menginisiasi model dialog dialogis ini. Ia mengajak seluruh elemen bangsa dan pemuka agama untuk berkolaborasi menyebarkan nilai-nilai keutamaan (virtues) guna meredam ego geopolitik yang destruktif.

"Kita harus mengubah lingkaran setan (vicious circle) yang dipenuhi konflik ini menjadi lingkaran keutamaan (virtuous circle). Dari Indonesia, mari kita nyatakan tekad untuk berkolaborasi, mengembangkan, dan menyiarkan keutamaan-keutamaan agama agar dialog mampu menjadi instrumen strategis pencipta perdamaian abadi," pungkasnya.