Jakarta, MCNID.net--Maraknya perilaku penyimpangan seksual di tengah masyarakat kian berada pada titik yang mengkhawatirkan. Hampir setiap pekan, publik disuguhkan kabar buruk mengenai fenomena ini.
Bahkan, belakangan ini sempat viral di media sosial yang memperlihatkan perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di lingkungan sebuah kampus.
Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa gerakan penyimpangan ini telah menyasar semua kalangan, terutama kelompok mahasiswa yang menjadi tumpuan masa depan bangsa.
Merespons fenomena yang kian masif di lingkungan akademis tersebut, Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) mengingatkan bahwa gaya hidup menyimpang ini membawa konsekuensi buruk yang sangat nyata dan multidimensional, khususnya pada aspek kesehatan fisik dan mental para pelakunya.
Ketua Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan PP KAMMI, Muhammad Alfiansyah, menegaskan bahwa dampak buruk dari aktivitas LGBT sama sekali tidak boleh diremehkan karena berkaitan langsung dengan ketahanan fisik anak bangsa. Dari kacamata medis, aktivitas seksual yang menyimpang di lingkungan tersebut menempatkan pelakunya pada risiko tinggi.
"Dari sudut pandang kesehatan fisik, aktivitas seksual yang menyimpang di lingkungan LGBT memiliki risiko tinggi terhadap penularan berbagai penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang berbahaya, termasuk HIV/AIDS, yang hingga kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan kesehatan generasi muda kita. Dampak buruk ini tidak boleh diremehkan karena menyangkut masa depan fisik anak bangsa," ujar Alfi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/6/2026).
Selain ancaman penyakit menular fisik yang mematikan, Alfi juga mendesak publik dan dunia akademis untuk tidak menutup mata terhadap hancurnya kesehatan psikologis di dalam kelompok tersebut. Konflik batin akibat gaya hidup yang melanggar fitrah kemanusiaan serta norma sosial memicu kerusakan mental yang mendalam.
"Kita juga tidak boleh menutup mata dari sisi kesehatan mental. Data menunjukkan adanya kerentanan psikologis yang tinggi pada kelompok ini, mulai dari kecemasan ekstrem, depresi, hingga trauma psikososial akibat konflik batin yang bertentangan dengan fitrah manusia dan norma masyarakat," jelasnya.
Menurut Alfi, pemulihan kesehatan mental secara holistik atau menyeluruh sudah sangat mendesak dilakukan agar mereka yang terjerumus dapat kembali berfungsi secara sehat dan normal di tengah masyarakat.
Kerusakan kesehatan yang bersifat akumulatif ini dinilai KAMMI akan membawa efek domino yang merembet ke ranah produktivitas dan dunia kerja. Perusahaan maupun instansi pemerintahan membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang sehat secara utuh untuk menjaga stabilitas emosional dan performa organisasi.
Jika moralitas, kesehatan fisik, dan mental para pekerja runtuh akibat perilaku menyimpang, maka daya saing nasional serta potensi bonus demografi ketenagakerjaan Indonesia di masa depan terancam mengalami kehancuran.
Senada dengan hal itu, Ketua PP KAMMI Bidang Keummatan dan Wawasan Keislaman, Jodi Setiawan, menyatakan dukungan penuhnya terhadap langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam penindakan LGBT.
Jodi mengingatkan bahwa jika dibiarkan, fenomena ini akan merusak tatanan keluarga ideal sebagai unit dasar masyarakat.
"Seharusnya pemuda dan mahasiswa harus bisa menjadi pionir dalam hal mencegah dan mengkampanyekan bahaya LGBT di kalangan muda, serta mengajak kesembuhan pelaku LGBT dengan kegiatan yang positif," pungkas Jodi.



