Jakarta, MCNID.net--Prosesi pergantian Kiswah atau kain penutup Ka'bah di Masjidil Haram setiap menyambut tahun baru Islam tidak hanya sarat akan nilai spiritual. Di balik kemegahan dan kesakralan ritual tahunan tersebut, terdapat alasan fisik dan logis yang sangat mendasar, yakni masalah kebersihan dan perawatan berkala akibat interaksi konstan dengan jutaan manusia.


Sebagai kiblat umat Islam sedunia, Ka'bah tidak pernah sepi dari jemaah yang melakukan tawaf, baik selama musim haji maupun ibadah umrah sepanjang tahun. Dalam prosesnya, kain sutra hitam agung tersebut secara alami menjadi objek yang paling sering disentuh oleh tangan-tangan jamaah dari berbagai belahan dunia.


Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja (Daker) Makkah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Erti Herlina, menjelaskan bahwa penggantian kain penutup Ka'bah secara berkala setiap tahun menjadi hal yang mutlak dilakukan demi menjaga kelayakan estetika dan kesucian Baitullah.


"Bayangkan setiap orang memegang kain penutup Ka'bah itu. Dalam satu tahun, sudah jutaan orang yang menyentuhnya, sehingga diperlukan pembaruan atau penggantian," ujar Erti Herlina di Makkah dikutip dari laman resmi MUI, Selasa (16/6/2026). 


Kiswah bukanlah kain pelindung biasa. Kain raksasa ini merupakan mahakarya yang terbuat dari bahan sutra hitam murni berkualitas tinggi. Keagungannya kian terpancar berkat hiasan kaligrafi ayat-ayat Alquran yang disulam timbul secara detail menggunakan jalinan benang emas dan perak murni.


Karena materialnya yang halus dan bernilai tinggi, paparan cuaca ekstrem Makkah serta gesekan atau sentuhan dari jutaan telapak tangan jamaah dalam setahun tentu dapat memengaruhi kualitas fisik kain dan sulaman tersebut.


Oleh karena itu, penurunan kiswah lama dan pemasangan kiswah yang baru diperlukan untuk memastikan Ka'bah selalu tampil dalam kondisi terbaik, bersih, dan indah.


Prosesi penggantian ini ditangani oleh tim khusus yang ditunjuk oleh otoritas Masjidil Haram. Mereka melakukan penurunan dan pemasangan kain seberat ratusan kilogram tersebut secara bertahap dan sangat terstruktur agar tidak merusak struktur bangunan suci tersebut.


Selain alasan logis terkait higienitas dan pemeliharaan material, momen penggantian kain ini juga diselaraskan dengan waktu yang istimewa. Sesuai dengan regulasi baru yang ditetapkan oleh Raja Salman sejak tahun 2022, prosesi ini kini digelar setiap malam pergantian tahun baru Hijriah, menggeser tradisi lama yang sebelumnya dilakukan setiap tanggal 9 Dzulhijjah.


Erti menambahkan, sinkronisasi waktu ini memberikan makna ganda yang harmonis bagi umat Islam. Saat Ka'bah mendapatkan tampilan fisik yang baru dan bersih, umat Islam di seluruh dunia juga diajak untuk memperbarui kondisi batiniah mereka.


"Pergantian kiswah di Masjidil Haram pada 1 Muharram menjadi simbol tahun baru Islam sebagai momentum lahirnya semangat baru dan pencucian diri secara spiritual," pungkas Erti.