Jakarta, MCNID.net--Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memimpin pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di panggung global.
Keuangan berbasis syariah dinilai tidak hanya menjadi instrumen finansial, melainkan juga solusi nyata bagi pembangunan global yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya bagi negara-negara berkembang.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi ekonomi Islam International Forum on Islamic Economic, Finance, and Sustainable Development (IFESCD) 2026 yang berlangsung di Markas Besar Bank Dunia, Washington DC, Amerika Serikat, 15–16 Juli 2026.
Dubes Indroyono menyoroti potensi industri keuangan Islam global yang nilainya telah menembus angka 3,6 triliun dolar AS. Namun, nilai yang sangat besar tersebut dinilai belum termanfaatkan secara optimal untuk mengatasi berbagai tantangan pembangunan dunia.
"Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah dunia," ujar Dubes Indroyono sebagaimana keterangan tertulis KBRI Washington DC yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, dengan modal demografi lebih dari 240 juta jiwa penduduk Muslim, Indonesia berada di posisi strategis untuk melahirkan inovasi-inovasi ekonomi syariah yang berdampak global.
"Melalui kolaborasi internasional, penguatan riset, inovasi digital, serta optimalisasi instrumen keuangan dan sosial Islam, kita dapat menghadirkan solusi pembangunan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi masyarakat global," tegasnya.
Untuk menopang peran pimpinan di tingkat global, Indonesia terus memperkuat ekosistem dan fondasi industri keuangan syariah di dalam negeri. Hal ini dibuktikan melalui optimalisasi peran Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) serta penguatan kapasitas Bank Syariah Indonesia (BSI).
Tak hanya itu, instrumen pembiayaan syariah Indonesia juga mencatatkan rekor signifikan. Penerbitan sukuk negara yang kini telah melampaui 120 miliar dolar AS menjadi bukti nyata kontribusi sektor ini dalam mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur dan program prioritas nasional.
Dalam forum internasional tersebut, KBRI Washington DC turut memfasilitasi keikutsertaan sejumlah delegasi dan institusi syariah terkemuka asal Tanah Air, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Tazkia Bogor, Dompet Dhuafa, hingga Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) Jakarta.
Hadirnya lintas sektor dari unsur akademisi, lembaga amil zakat, hingga lembaga kajian teknologi ini mendapat sambutan positif dari para peserta konferensi internasional.
"Penerimaan terhadap institusi tersebut mencerminkan semakin besarnya perhatian komunitas internasional terhadap pengembangan ekonomi syariah Indonesia, sebagai salah satu kekuatan baru dalam ekosistem ekonomi global," kata Indroyono.
Partisipasi aktif Indonesia dalam IFESCD 2026 ini kian mempertegas komitmen nasional dalam memperluas jaringan kemitraan internasional, menggerakkan inovasi digital syariah, dan mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar dalam membentuk arsitektur ekonomi dunia yang lebih tangguh.



