Tasikmalaya, MCNID.net— Pondok Pesantren Cintawana, Tasimalaya, Jawa Barat, menggelar acara haul akbar KH Muhammad Toha dan KH Ishak Farid dengan mengangkat tema: Mengenang Sang Mutiara Umat. 

Acara ini juga dirangkaikan dengan acara Silaturahim Alumni Pondok Pesantren Cintawana sekaligus diskusi dengan tema: Mengkaji Pemahaman Syafii'iyah dalam Perspektif Fiqh Mazhab. 

Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, menjadi narasumber dalam acara tersebut, menekankan pentingnya pesantren bermazhab. 

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menambahkan, pesantren bermazhab menjadi keharusan dan bukti ketawadhuan (kerendahan hati). 

"Keharusan, karena ilmu para ajengan merasa belum sampai tingkatan mujtahid mutlak, sehingga pilihannya adalah muttabi' kepada shahibul mazhab atau bagi orang awam adalah muqallid kepada ulama," kata Kiai Cholil di Pondok Pesantren Cintawana, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (25/4/2026) malam WIB. 

Sementara Soal ketawadhuan, Kiai Cholil menjelaskan, ilmu yang dimiliki ajengan perlu disandarkan kepada transmisi keilmuan dari ulama yang mumpuni, termasuk pertanggungjawaban dari Allah SWT. 

Lebih lanjut, Kiai Cholil mengapresiasi kiprah Pesantren Cintawana yang sudah ada sejak 1917 dan menjadi pesantren tertua di Jawa Barat. 

Pesentren yang didirikan oleh KH Muhammad Thoha, kemudian dilanjutkan oleh KH Ishak Farid ini, menegaskan ikrar Muslimun Sunniyun wa Ghazaliyun yang artinya Seorang Muslim, Sunni, dan pengikut (pemikiran) Al-Ghazali.

Kiai Cholil mengungkapkan, Pesantren Cintawana juga telah banyak melahirkan para tokoh. Di antaranya Ketua Umum PP Muhamadiyah Prof Haedar Nashir dan Rais 'Aam PBNU KH Ruhiyat. (Sadam, ed: Amir)