Jakarta, MCNID.net--Maraknya fenomena penyimpangan seksual di tengah masyarakat kian mengkhawatirkan. Kabar buruk terkait perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) kini hampir terdengar setiap pekan. Teranyar, sebuah kasus perilaku LGBT di salah satu lingkungan kampus yang sempat viral menandakan bahwa gerakan penyimpangan ini sudah menyasar semua kalangan, terutama kelompok mahasiswa.


Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait penindakan dan pencegahan LGBT. KAMMI mendorong agar mahasiswa Muslim bergerak aktif menjadi benteng moral sekaligus agen perubahan yang membawa solusi konkret.


Ketua PP KAMMI Bidang Keummatan dan Wawasan Keislaman, Jodi Setiawan, mengingatkan bahwa fenomena LGBT merupakan ancaman nyata bagi moral dan kelangsungan generasi penerus bangsa Indonesia.


Jika terus dibiarkan tanpa penanganan serius, hal ini berpotensi merusak tatanan keluarga ideal yang menjadi unit dasar pengokoh masyarakat, serta mengganggu fungsi generasi dan populasi di masa depan.


Namun, alih-alih sekadar mengecam, Jodi menekankan pentingnya pendekatan edukatif dan persuasif dari kalangan muda sendiri. Menurutnya, mahasiswa harus mengambil peran sebagai penggerak utama dalam mengedukasi lingkungan sekitar mengenai bahaya penyimpangan ini.


"Seharusnya pemuda dan mahasiswa harus bisa menjadi pionir dalam hal mencegah dan mengkampanyekan bahaya LGBT di kalangan muda, serta mengajak kesembuhan pelaku LGBT dengan kegiatan yang positif," ujar Jodi dalam keterangan tertulisnya yang diterima MCNID, Rabu (24/6/2026). 


Dukungan terhadap kampanye kesembuhan ini juga didasari oleh dampak buruk LGBT yang bersifat multidimensional. Ketua Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan PP KAMMI, Muhammad Alfiansyah, turut memberikan sorotan tajam mengenai bagaimana penyimpangan ini merusak kehidupan pelakunya dari aspek fisik dan mental.


Dari sudut pandang kesehatan fisik, Alfi memaparkan bahwa aktivitas seksual yang menyimpang di lingkungan LGBT memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang berbahaya, termasuk HIV/AIDS.


"Dampak buruk ini tidak boleh diremehkan karena menyangkut masa depan fisik anak bangsa," tegas Alfi.


Tidak hanya fisik, Alfi juga menyoroti kerentanan psikologis yang dialami oleh para pelaku. Data menunjukkan tingginya angka kecemasan ekstrem, depresi, hingga trauma psikososial pada kelompok ini akibat konflik batin yang bertentangan dengan fitrah manusia dan norma yang berlaku di masyarakat.


Oleh karena itu, KAMMI memandang penanganan yang humanis melalui program pemulihan sangat mendesak untuk dilakukan.


"Pemulihan kesehatan mental secara holistik sangat diperlukan agar mereka dapat kembali berfungsi dengan sehat di tengah masyarakat," jelasnya.


Lebih lanjut, Alfi mengingatkan bahwa kehancuran moral, fisik, dan mental ini pada akhirnya akan merembet ke ranah produktivitas kerja. Perusahaan dan instansi membutuhkan tenaga kerja yang sehat secara utuh untuk menjaga kinerja organisasi. 


Jika gaya hidup menyimpang ini meluas, daya saing bangsa serta potensi bonus demografi ketenagakerjaan Indonesia di masa depan terancam runtuh.


PP KAMMI mengajak seluruh elemen mahasiswa dan organisasi kepemudaan untuk merapatkan barisan. Kampus harus dikembalikan fungsinya sebagai pusat peradaban dan moral, di mana para pemudanya aktif mengampanyekan gaya hidup sehat sesuai fitrah, sekaligus membuka pintu pendampingan bagi mereka yang ingin kembali sembuh.