Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menegaskan bahwa esensi Tahun Baru Hijriah di era modern telah mengalami pergeseran makna yang mendasar.


Menurutnya, hijrah pada masa kini tidak boleh lagi diartikan secara sempit sebagai perpindahan fisik antar-wilayah, melainkan harus dimaknai sebagai transformasi radikal dalam cara pandang dan orientasi hidup.


Kiai Cholil menjelaskan, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dahulu memang melibatkan perpindahan geografis yang menuntut pengorbanan harta dan keluarga demi mempertahankan keimanan. Namun, di era kontemporer ini, medan perjuangan umat Islam telah berubah.



“Sekalan hijrah itu tidak lagi soal tempat, tapi bersoalan orientasi berpikir,” ujar Kiai Cholil Nafis di Jakarta, Ahad (14/6/2026).


Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menyoroti bagaimana pola pikir masyarakat modern saat ini kerap kali terjebak pada pusaran materi dan kesenangan duniawi semata. 


Momentum pergantian tahun baru Islam ini, menurutnya, harus menjadi titik balik bagi setiap Muslim untuk menyuntikkan nilai-nilai spiritual ke dalam setiap aspek pemikiran mereka.


“Dari berpikir yang mungkin sifat duniawi semata menjadi terinspirasi, terisi dengan spiritual. Yang kedua dari mungkin berpikir hanya kesenangan duniawi semata menjadi berpikir bagaimana diisi dan diperkuat dengan keimanan,” tuturnya.


Lebih lanjut, Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini memaparkan bahwa indikator keberhasilan hijrah 'zaman now' dapat dilihat dari sejauh mana seseorang mampu menggeser fokus hidupnya.


Ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur, pada 1 Juni 1975 ini menjelaskan bahwa hijrah yang sesungguhnya adalah ketika seorang Muslim mampu beranjak dari perilaku negatif dan maksiat menuju amal kebaikan, serta mengubah pola pikir egois yang berorientasi individu menjadi kepedulian terhadap kemaslahatan publik.


“Orientasi kepada kepentingan sendiri menjadi orientasi bagaimana kita menyebarkan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Ini hijrah yang harus menjadi orientasi kita ke depan,” tambah Kiai Cholil.


Dalam kesempatan ini, Kiai Cholil juga memberikan refleksi spiritual bahwa umat Islam tidak perlu khawatir akan urusan pribadinya. Menurutnya, ada memikirkan kemaslahatan umat. Ada hukum timbal balik yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi mereka yang mau berhijrah secara pemikiran dan sosial.


“Kalau kita sudah bisa berpikir tentang kebaikan orang banyak dan kebaikan umat, maka otomatis diri sendiri oleh Allah sudah diberikan jalannya yang terbaik,” pungkasnya.