Jakarta, MCNID.net--Ada banyak cara untuk memahami hakikat ujian hidup dan tanggung jawab dalam Islam. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, membagikan sebuah analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni filosofi dari latihan angkat beban (weight training).
Menurut Kiai Cholil, aktivitas olahraga tersebut menyimpan pelajaran spiritual yang mendalam mengenai bagaimana seorang mukmin seharusnya menyikapi amanah dan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.
Dalam latihan angkat beban, Kiai Cholil menyatakan bahwa seseorang tidak akan langsung dipaksa untuk mengangkat beban yang paling berat.
Menurutnya, semua dimulai dari bobot yang paling ringan dan mampu dipikul, lalu meningkat secara konsisten dan bertahap seiring bertambahnya kekuatan otot.
"Seorang yang berlatih tidak langsung mengangkat beban yang paling berat, tetapi memulai dari beban yang mampu dipikul, kemudian meningkat sedikit demi sedikit hingga tubuh menjadi lebih kuat," ujar Kiai Cholil Nafis, dikutip dari akun Instagram pribadinya @cholilnafis, Senin (6/7/2026).
Prinsip bertahap dan terukur inilah yang menurut Kiai Cholil harus diterapkan dalam memandang dinamika kehidupan. Ia mengajak umat Islam untuk mengubah cara pandang (mindset) ketika dihadapkan pada kesulitan hidup atau tanggung jawab yang besar. Alih-alih mengeluh, setiap tantangan hendaknya dipandang sebagai media olahraga spiritual.
"Seorang mukmin hendaknya memandang setiap amanah dan ujian sebagai 'latihan ruhani'," tuturnya.
Jika proses adaptasi fisik dalam olahraga melahirkan otot yang kuat, maka dalam dimensi spiritual, tempaan ujian yang dihadapi dengan sikap mental yang tepat akan melahirkan jiwa yang tangguh. Kunci utama dalam menghadapi "beban" tersebut adalah kombinasi antara tiga pilar, yakni sabar, ikhtiar, dan tawakal.
Jika ketiga hal tersebut dijalani dengan konsisten, Kiai Cholil optimistis bahwa Allah SWT akan melipatgandakan kekuatan hambanya, sebagaimana otot manusia yang menjadi lebih kuat setelah ditempa latihan yang terukur.
Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menegaskan bahwa tolok ukur kekuatan seorang mukmin tidak dilihat dari seberapa besar atau beratnya ujian yang menimpanya. Sebaliknya, nilai sejati seorang manusia terletak pada komitmen dan keseriusannya dalam berproses.
"Bukan beratnya beban yang menentukan kekuatan seseorang, tetapi kesungguhan dalam memikul beban sesuai kadar kemampuan yang Allah anugerahkan," kata Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.



