Dharmasraya, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH M Cholil Nafis, menekankan pentingnya menjaga adabul hiwar atau etika dalam berdialog di tengah keberagaman cara berpikir umat. 


Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini menegaskan bahwa perbedaan argumentasi adalah hal yang wajar, namun tidak boleh mengorbankan akhlak dan persaudaraan.


Pesan tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam acara Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) PBNU yang digelar di Pondok Pesantren Al-Barokah, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Senin (13/7/2026). 


Dikutip dari akun Instagram pribadinya @cholilnafis pada Selasa (14/7/2026), Wakil Ketua Umum MUI ini mengingatkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan latar belakang dan kemampuan memahami dalil yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perbedaan yang masih berada dalam koridor ijtihad syariat wajib dihormati.


"Adabul hiwar mengajarkan bahwa kita boleh berbeda argumentasi, tetapi tidak boleh kehilangan akhlak. Kita boleh berdebat dengan dalil, tetapi tidak boleh memutus tali persaudaraan," ujar Kiai Cholil Nafis.


Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mencontohkan generasi sahabat dan para ulama terdahulu yang telah memberikan teladan nyata. Menurutnya, para pendahulu umat mampu berbeda pendapat secara tajam dalam masalah-masalah furu’iyyah (cabang agama), namun tetap saling menghormati dan kokoh menjaga ukhuwah (persaudaraan).


"Mereka memahami bahwa kebenaran tidak lahir dari fanatisme, melainkan dari ilmu, adab, dan ketakwaan," kata CEO Amanah Zakat ini. 


Lebih lanjut, Kiai Cholil menyoroti batasan tegas antara toleransi dan pembiaran. Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah). 


Namun, jika perbedaan itu sudah bergeser menjadi permusuhan, saling membenci, saling mengafirkan, menyebarkan fitnah, hingga memecah belah umat dan bangsa, maka hal tersebut adalah musibah yang wajib dihentikan.


Kiai Cholil mengingatkan bahwa kekuatan umat Islam dan bangsa Indonesia dibangun di atas fondasi persaudaraan, bukan atas paksaan keseragaman. Oleh karena itu, cara menyelesaikan konflik pemikiran bukanlah dengan memusuhi orangnya.


"Yang perlu 'diamputasi' bukanlah orang yang berbeda pendapat, melainkan penyakit yang merusak persaudaraan: ego, fanatisme golongan, kebencian, provokasi, dan merasa paling benar sendiri," kata Kiai Cholil Nafis.