Jakarta, MCNID.net--Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan bahwa nilai-nilai syariah yang melekat kuat pada masyarakat Gorontalo tidak boleh berhenti sebagai simbol kultural semata.
Sistem ekonomi berbasis syariah harus dikonversi secara nyata menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif untuk menyejahterakan masyarakat.
Hal tersebut ditegaskan Wagub Idah Syahidah saat membuka secara resmi Pekan Ekonomi Syariah Gorontalo (PESONA) dan Sinergi Akselerasi Digitalisasi Gorontalo (SERLIGO) 2026 di Taman Budaya Limboto, Kabupaten Gorontalo, Jumat (19/6/2026).
“Ekonomi syariah bukan hanya menjadi bagian dari identitas daerah, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki Gorontalo harus terus didorong melalui kolaborasi dan inovasi,” ujar Idah Syahidah dalam sambutannya, dikutip dari laman resmi Pemprov Gorontalo.
Idah menambahkan, agar ekonomi syariah dapat berakselerasi optimal sebagai pilar kesejahteraan, pengembangannya tidak boleh berjalan konvensional.
Menurutnya, penguatan nilai-nilai syariah harus dikawinkan secara linier dengan transformasi digital guna memperluas daya saing pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Langkah mendorong ekonomi syariah sebagai mesin kesejahteraan pada tahun ini mendapatkan momentum emas. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, menjelaskan bahwa pergelaran PESONA-SERLIGO sengaja diintegrasikan dengan momentum tuan rumah Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) XVII yang dipusatkan di Kabupaten Gorontalo.
Kehadiran ribuan peserta dari seluruh penjuru Indonesia menjadi pasar potensial yang sangat besar untuk menyerap produk ekonomi kreatif dan kuliner halal Gorontalo.
“Momentum ini menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan manfaat sekaligus mempercepat implementasi ekonomi syariah dan digitalisasi di Provinsi Gorontalo,” jelas Bambang.
Dengan konsistensi dan sinergi yang terus dibangun antara Pemprov Gorontalo, Pemkab, dan Bank Indonesia, event tahunan yang akan berlangsung hingga 22 Juni 2026 ini diharapkan mampu memperkuat posisi Gorontalo di kancah makro.
BI bahkan membidik target jangka panjang untuk membawa Provinsi Gorontalo naik kelas, yakni bertransformasi menjadi pusat pengembangan sekaligus kiblat ekonomi syariah utama untuk kawasan regional Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).



