Jakarta, MCNID.net--Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024 sekaligus Mustasyar PBNU, KH Ma'ruf Amin, dijadwalkan akan meluncurkan buku terbarunya berjudul "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu malam (5/8/2026).


Melalui karya setebal lebih dari 600 halaman tersebut, Kiai Ma'ruf menegaskan kembali hakikat Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak hanya dipandang sebagai wadah organisasi formal. Dalam pengantarnya, ulama berusia 83 tahun itu mengingatkan bahwa NU adalah sebuah sistem yang hidup dan berakar pada nilai-nilai keagamaan.


"NU tidak boleh dipahami sekadar sebagai organisasi administratif. NU adalah sistem yang hidup," tegas Kiai Ma'ruf.


Pernyataan ini menjadi landasan utama dari lahirnya buku karangan Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin tersebut. Buku ini mengupas tuntas tiga pilar utama yang menurut Kiai Ma'ruf harus menjadi fondasi organisasi: fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan).


Peringatan tersebut juga menggemakan arahan Kiai Ma'ruf saat bertemu dengan para masyayikh di Bangkalan, Madura, Juni lalu. Saat itu, ia mewanti-wanti agar perjalanan NU terus dikawal secara spiritual dan pemikiran. "Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan)," ujarnya.


Penulis buku mengungkapkan, karya ini lahir dari kegelisahan terhadap fenomena keberagamaan umat yang sering kali kuat secara tradisi dan amaliyah, tetapi tidak selalu diiringi pemahaman mendalam terhadap pilar gerakan dan fondasi pemikirannya. 


Oleh karena itu, buku ini hadir untuk mendorong warga Nahdliyin agar ber-NU 'alā baṣhīrah, yakni berbasis pemahaman, keyakinan, dan hujjah yang jelas, bukan sekadar mengikuti tradisi keluarga.


Peluncuran buku yang merangkum perjalanan lebih dari lima dekade pemikiran Kiai Ma'ruf di NU ini hadir pada momen yang sangat krusial. Acara ini digelar hanya beberapa pekan sebelum pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang bakal berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026.


Selain dihadiri tokoh-tokoh nasional, peluncuran buku besok malam rencananya turut dihadiri para kiai sepuh serta anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), forum ulama senior yang memegang peranan kunci dalam menentukan kepemimpinan NU pada Muktamar mendatang.


Lewat karya ini, Kiai Ma'ruf yang juga berjuluk "Singa Bahtsul Masail" mewariskan sebuah peta jalan bagi NU di abad pertamanya: sebuah ajakan agar organisasi Islam terbesar di dunia ini tidak terjebak dalam rutinitas birokrasi, melainkan terus bergerak dari kuantitas menuju kualitas.