Jakarta, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH M Cholil Nafis mengungkapkan munculnya wacana perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. 


Jika selama ini pemilihan ketua umum dilakukan melalui pemungutan suara langsung (head-to-head), kini tengah diperbincangkan opsi pelibatan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bersama Rais Aam terpilih.


Menurut Kiai Cholil, gagasan ini muncul sebagai upaya untuk menjaga efisiensi energi organisasi serta memperkuat kebersamaan di tubuh Nahdlatul Ulama.


"Ada perbincangan ingin tidak terlalu memakan energi. Dengan cara begitu akan lebih mudah dan NU menjadi milik semua. Bukan yang menang (dipakai) dan yang kalah ditinggal, tidak," ujar Kiai Cholil kepada wartawan, Selasa (4/8/2026). 


Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan gambaran skema usulan tersebut. Nantinya, Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Cabang (PC) dapat mengusulkan sejumlah nama calon tokoh, misalnya lima, tujuh, hingga sembilan nama. Dari nama-nama dengan dukungan suara terbesar itu, AHWA bersama Rais Aam terpilih yang akan menentukan siapa Ketua Umum Tanfidziyah.


Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menilai bahwa skema ini dapat mempertegas posisi Tanfidziyah sebagai pelaksana mandat kepemimpinan dari Syuriyah.


"Tanfidziyah itu kan pelaksana dari Rais. Tapi ketika dipilih (langsung), mungkin merasa bukan pelaksana, melainkan mendapat mandat tersendiri," jelasnya.


Meski demikian, Kiai Cholil menegaskan bahwa gagasan ini masih sebatas wacana dan gagasan awal di tengah para tokoh PBNU. Kepastian mengenai mekanisme yang akan digunakan sepenuhnya berada di tangan para peserta muktamar (muktamirin).


"Ini baru semacam wacana yang disampaikan di tengah-tengah kita, tergantung nanti muktamirin. Keputusannya nanti dibahas di Komisi Organisasi dan disahkan di Sidang Pleno," ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil juga mengungkapkan sejumlah nama bursa kepemimpinan yang mulai beredar di kalangan warga nahdliyin. Beberapa nama di antaranya adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin), KH Luqman Hakim (Gus Kikin), Prof. Mohammad Nuh, hingga Saifullah Yusuf (Gus Ipul).


Ia menyebut proses dinamika nama-nama tersebut nantinya akan terseleksi secara alamiah seiring dengan mekanisme yang disepakati dalam muktamar.