Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, menilai bahwa ukuran keimanan seseorang tidak bisa diukur hanya dari atribut luar, pakaian, atau simbol-simbol keagamaan yang dikenakan. Menurutnya, hakikat keimanan yang sejati justru terpancar dari sikap, akhlak, dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan bahwa menilai seseorang hanya dari apa yang tertangkap oleh mata sering kali melahirkan pemahaman yang keliru dan berpotensi memicu ketidakadilan dalam bergaul.
"Mata kita ini tidak bisa dijadikan hakim satu-satunya. Subjektivitas mata itu muncul karena pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai kita tertipu oleh penampilan luar," ujar ulama yang akrab disapa Kiai Cholil, Rabu (9/9/2026).
Kiai Cholil mencontohkan, seseorang yang mengenakan pakaian khas ulama seperti sorban dan jubah panjang tidak serta-merta bisa langsung disimpulkan sebagai ulama besar jika tidak mengamalkan ilmunya. Sebaliknya, orang yang memiliki penampilan sederhana juga tidak bisa langsung dinilai buruk hanya karena prasangka atau stigma tertentu.
Kiai Cholil mengingatkan bahwa Allah SWT tidak melihat hamba-Nya dari rupa maupun bentuk fisik, melainkan dari ketulusan hati dan amal perbuatannya. "Iman itu tergantung pada apa yang menghujam di dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan. Kita memang tidak bisa melihat hati seseorang secara langsung, tetapi tanda-tanda keimanan itu dapat terlihat jelas dari perilakunya," tegasnya.
Lebih lanjut, Kiai Cholil menjelaskan bahwa karakter dan kadar keimanan seseorang akan teruji seiring berjalannya waktu melalui interaksi sosial. Seseorang mungkin bisa berpura-pura dalam jangka pendek, namun ketika bergaul dalam waktu yang lama, sifat asli dan akhlaknya akan muncul dengan sendirinya.
Indikator keimanan tersebut, menurutnya, bahkan bisa dibuktikan secara objektif melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang konsisten, seperti kedisiplinan dalam beribadah, kesantunan dalam bertutur kata, serta kepedulian terhadap sesama, tetangga, dan teman.
Oleh sebab itu, Kiai Cholil mengimbau masyarakat untuk senantiasa mengedepankan kesantunan, keramahan, dan prasangka baik saat bertemu dengan siapa pun. "Mengawali setiap perjumpaan dengan salam dan rasa hormat jauh lebih utama daripada tergesa-gesa memberikan penilaian berdasarkan penampilan luar," tuturnya.



