Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyampaikan kritik tajam terhadap kelompok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang dinilainya kerap menentang wacana penerapannya hukuman mati bagi para koruptor.
Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini menilai, cara berpikir yang membela hak koruptor di atas hak jutaan rakyat adalah keliru dan analogis dengan sebutan "HAM Burger".
"Ya ini HAM-nya HAM burgers ini. Kok ini mana HAM-nya seseorang dikalahkan dengan HAM-nya orang banyak?" ujar Kiai Cholil Nafis kepada MCNID.net, Ahad (2/8/2026).
Menurut Kiai Cholil, hak asasi manusia tidak bersifat tunggal dan berdiri sendiri tanpa kewajiban. Kebijakan dan penegakan hukum harus diletakkan secara proporsional. Hak hidup dan hak sejahtera masyarakat luas atau maslahatul 'ammah harus diprioritaskan di atas kepentingan individu yang justru merugikan negara.
"HAM-nya orang banyak itu hak hidup bernegara, hak hidup untuk sejahtera, kekayaan bersama, kemerdekaan sama-sama. Nah, kok dirampas oleh seseorang hak asasi manusianya, kemudian kita mengatakan kita bela HAM-nya? Hak individu tidak boleh mengalahkan hak umum," tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menambahkan korupsi yang masif telah merenggut hak-hak dasar rakyat, mulai dari akses pendidikan hingga kesejahteraan ekonomi. Ketika anggaran negara digarong, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan dan dimiskinkan secara sistemik.
Oleh karena itu, MUI menilai korupsi di Indonesia saat ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan telah merata dan menjadi ancaman nyata bagi stabilitas negara. Dalam kondisi yang sudah sedemikian darurat, negara dipandang berhak menetapkan hukuman terberat, termasuk hukuman mati.
"Ketika nanti pemerintah mempunyai ijtihad tentang koruptor yang secara sistemik mengganggu terhadap stabilitas negara, mengganggu eksistensi negara dalam kondisi tertentu, maka negara boleh memberi hukuman mati. Tujuannya agar mereka jera dan orang menjadi takut, sehingga korupsi tidak lagi menjadi budaya," tegas Kiai Cholil.



