Jakarta, MCNID.net--PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus memperkuat posisinya sebagai pionir bullion bank pertama di Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya minat masyarakat terhadap aset aman (safe haven), BSI mencatatkan volume perdagangan emas yang fantastis, yakni mencapai 8,06 ton emas sepanjang semester pertama hingga Juni 2026.
Capaian ini menjadi bukti konkret keberhasilan BSI dalam membangun ekosistem bisnis emas yang terintegrasi, didukung oleh optimalisasi investasi negara melalui sinergi strategis bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Sinergi tersebut tidak hanya meningkatkan volume transaksi fisik, tetapi juga mendorong pertumbuhan nasabah bullion BSI hingga 700 persen secara year-on-year (YoY) menembus 1,3 juta orang.
Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, menyampaikan bahwa emas semakin menjadi pilihan utama masyarakat untuk melindungi nilai kekayaan (wealth preservation) di tengah tren ekonomi yang dinamis.
"Melalui layanan bullion, kami ingin menghadirkan investasi emas yang semakin mudah, aman, dan terjangkau. Pertumbuhan bisnis bullion ini tidak hanya memperkuat posisi BSI sebagai bank dengan layanan ekosistem emas syariah nasional, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan pendapatan berbasis fee (fee-based income) yang signifikan bagi perseroan," ujar Cahyo.
Keberhasilan BSI memperdagangkan lebih dari 8 ton emas dalam kurun waktu tersebut disokong oleh kemudahan akses yang ditawarkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Lewat aplikasi digital BYOND by BSI, transaksi emas dapat dilakukan secara real-time selama 24 jam nonstop hanya dengan modal awal mulai dari Rp50 ribu.
Selain penguatan jalur digital, BSI turut memperluas jangkauan pasar fisik melalui BSI Gold. Saat ini, BSI Gold telah hadir di berbagai toko emas resmi rekanan yang berlokasi di sentra-sentra emas nasional, dan ditargetkan akan terus berekspansi ke berbagai wilayah Indonesia.
Layanan bullion ini secara sempurna melengkapi ekosistem emas BSI yang telah ada sebelumnya, seperti Cicil Emas dan Gadai Emas. Per Juni 2026, outstanding gadai emas BSI tercatat mencapai Rp30,5 triliun (tumbuh 80,50% YoY). Secara total hingga Juli 2026, lini bisnis emas berhasil menyumbang fee-based income sebesar Rp2,10 triliun, melonjak 100 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Dengan portofolio yang kian lengkap, BSI optimistis dapat menjadikan bisnis emas sebagai salah satu mesin pertumbuhan utama perseroan sekaligus mengakselerasi inklusi keuangan syariah di Tanah Air.



