Madinah, MCNID.net--Momen Hari Raya Idul Adha tidak sekadar menjadi ritual ibadah tahunan dan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha memuat esensi penting dalam pembangunan karakter dan peradaban sebuah bangsa.

Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis menilai bahwa keteladanan, kegigihan, dan keteguhan keluarga Nabi Ibrahim AS sangat ideal dalam mencetak generasi penerus bangsa yang tangguh.

"Idul Adha adalah momentum refleksi nasional. Jika kita ingin membangun karakter bangsa yang kuat, jujur, dan berintegritas, maka kita harus menengok kembali bagaimana cara Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail membangun fondasi keluarga mereka," ujar Kiai Cholil, Sabtu (16/5/2026). 

Wakil Ketua Umum MUI ini menilai bahwa ibadah kurban memiliki dua nilai, yakni kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Hal itu yang dilakukan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS, sehingga bisa menjadi contoh dalam pembangunan karakter dan peradaban sebuah bangsa. 

Dalam kesalehan spiritual, mengenai penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme. Sementara kesalehan sosial, tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Nabi Ismail AS. 

Menurut Kiai Cholil, sikap Nabi Ismail AS sangat penting untuk diteladani, terurama bagi generasi muda Indonesia. Sebab, Nabi Ismail AS adalah figure anak yang saleh dan baik. 

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengungkapkan, Nabi Ismail AS memiliki pandangan jauh ke depan atas dasar spiritual yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya. 

"Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya," kata Kiai Cholil. 

Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya, namun justru berkata: 

يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“...Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat: 102).

Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang “shadiqal wa’di”, yaitu jujur dan menepati janji.

Imam al-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail. Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya.

Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah. 

"Itulah hebatnya Ismail. Andai saja generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera," kata Kiai Cholil.

 Kiai Cholil menilai, Indonesia membutuhkan generasi muda dengan integritas setingkat Nabi Ismail AS untuk bebas dari krisis moral. Dia mengajak generasi muda untuk meneladani Nabi Ismail AS sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua, bermental baja, dan siap berkorban demi kebenaran. 

Sementara Ibu Nabi Ismail AS, yakni Siti Hajar, ia memberikan pelajaran berharga ketuka peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit, namun berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. 

Siti Hajar adalah seorang istri dan ibu yang tidak hanya duduk termenung, menangis tanpa daya dan berputus asa. Namun, ia menggunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikiranya untuk terus mencari, bergerak dan berjuang tanpa henti.

Upaya Siti Hajar itu sempat tidak mendapatkan apa yang dicari dari upayanya saat menaiki gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi berkait karunia Allah SWT, melalui tendangan kaki balita Nabi Ismail AS, pencarian air ini bisa berhasil. 

"Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya, tetapi karena karunia Allah SWT," tegasnya.

Kiai Cholil mengatakan, peristiwa Sai mengisyaratkan makna perjuangan yang pentang menyerah. Dia menegaskan setiap orang harus siap berjuang keras dan penjang menyerah. 

"Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya. Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat," tegasnya. 

Sementara Nabi Ibrahim AS, adalah seorang ayah dan suami yang menunjukkan karakter pemimpin yang demokratis, namun teguh pada prinsip. 

"Saat menerima perintah menyembelih putranya, ia tidak otoriter, melainkan mengajak sang anak berdialog. Ini adalah contoh komunikasi keluarga yang berbasis transparansi dan keimanan," tegasnya.

Kiai Cholil menerangkan, sosok Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail mengajarkan tentang pentingnya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup. 

"Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini," terangnya.