Makkah, MCNID.net--Ketua Musyrif Diny 2026, KH M Cholil Nafis melakukan ziarah spiritual ke pemakaman bersejarah Jannat al-Mu'alla (Ma'la) di Makkah, Arab Saudi.
Ziarah ke makam para tokoh besar ini dinilai sebagai bukti nyata betapa kuat dan kokohnya ikatan serta sanad keilmuan antara ulama Nusantara dengan Tanah Suci yang telah terajut sejak lama.
Di pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir keluarga dan sahabat Rasulullah tersebut, Kiai Cholil berziarah secara khusus ke makam Ummul Mukminin Sayyidati Khadijah al-Kubra.
Tak hanya itu, Kiai Cholil menyambangi makam dua ulama kharismatik asal Indonesia, yakni Syekh Nawawi Al-Bantani dan KH Maimun Zubair.
Menurut Wakil Ketua Umum MUI ini, keberadaan makam para ulama Nusantara di Ma'la bukan sekadar penanda sejarah wafatnya seseorang di luar negeri.
Lebih dari itu, tempat ini menjadi saksi bisu kontribusi besar intelektual Muslim Indonesia di panggung dunia Islam internasional.
Kiai Cholil mencontohkan sosok Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama besar asal Banten yang diakui sebagai salah satu guru terkemuka di Masjidil Haram pada masanya.
"Syekh Nawawi adalah bukti hidup bahwa ulama kita dihormati di pusat keilmuan dunia. Beliau menulis banyak kitab lintas disiplin ilmu yang hingga detik ini masih dipelajari, dikaji, dan menjadi kurikulum wajib di ribuan pesantren di seluruh Indonesia," ujar Kiai Cholil, Kamis (12/5/2026).
Hubungan spiritual dan intelektual yang tak terputus itu, lanjut Kiai Cholil, diteruskan oleh generasi ulama kontemporer seperti KH Maimun Zubair (Mbah Moen). Tokoh kharismatik Indonesia tersebut wafat di Makkah saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di Ma'la.
Kehadiran makam Mbah Moen di Tanah Haram menjadi refleksi mendalam bagi umat Islam Indonesia tentang akhir kehidupan yang mulia (husnul khatimah), serta keteladanan nyata dalam menjaga konsistensi ilmu, dakwah, dan akhlak mulia hingga embusan napas terakhir.
Di sela-sela ziarahnya, pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini juga memberikan edukasi penting mengenai esensi dari tradisi ziarah kubur kepada para ulama. Ia meluruskan pemahaman agar masyarakat tidak terjebak dalam praktik yang salah kaprah.
"Ziarah kepada para ulama ini sama sekali bukan untuk meminta-minta atau memohon hajat kepada penghuni kubur. Kita datang untuk mendoakan mereka, menghormati, dan mengenang bagaimana beratnya perjuangan ilmu mereka," tegasnya.
Kiai Cholil berharap, momentum ziarah ini bisa memantik kembali semangat generasi muda Islam di Indonesia untuk terus belajar dan berdakwah secara ikhlas.
"Tujuan utamanya adalah mengambil pelajaran (ibrah). Agar semangat dakwah, keikhlasan yang tanpa pamrih, dan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu dari para pendahulu kita ini tetap hidup, mengalir, dan terjaga di tengah-tengah umat," pungkasnya.



