Jakarta, MUI Digital--Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, memberikan catatan kritis terkait perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air. Meski Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tingkat kesadaran dan keterlibatan masyarakatnya dalam ekonomi syariah dinilai masih belum simetris.
Hal tersebut ditegaskan Menag saat memberikan sambutan pada Penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 sekaligus Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Ahad (26/7/2026).
Menag membeberkan bahwa dari total 240 juta penduduk muslim di Indonesia, tingkat kesadaran dan keterlibatan dalam ekonomi syariah saat ini baru terukur sekitar 7,5 persen. Angka ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, yang mencatatkan tingkat kesadaran ekonomi syariah hingga 27 persen dari total 20 juta populasi Muslimnya.
"Kita sudah sekian lama, hampir dua dekade memperkenalkan perbankan syariah, tetapi pangsanya masih berputar di bawah angka 10 persen," ujar Nasaruddin Umar dengan nada prihatin.
Ketimpangan ini terbilang ironis mengingat Indonesia saat ini memiliki modal sosial dan stabilitas ekonomi makro yang sangat solid. Pertumbuhan ekonomi nasional berada di angka 5,2 persen dengan tingkat inflasi yang terjaga di kisaran 1–2 persen, sebuah pencapaian impresif di tengah ketidakpastian global dan penurunan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara muslim kawasan konflik.
Menurut Menag, fakta ini menunjukkan bahwa pendekatan teknis perbankan semata tidak lagi cukup untuk mendongkrak literasi dan penetrasi keuangan syariah di masyarakat.
"Ada pendekatan non-ekonomi yang harus kita lakukan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas ekonomi umat secara holistik," tegasnya.
Sebagai solusinya, Menag mendorong adanya terobosan melalui pendekatan kultural, keagamaan, serta edukasi masif yang melibatkan pesantren dan berbagai lembaga pendidikan. Langkah integratif ini dinilai krusial agar penguatan ekonomi syariah dapat berjalan selaras dengan pemahaman agama masyarakat.
Menag optimistis, apabila masalah literasi ini dapat diakselerasi dan dibenahi secara mendasar, Indonesia tidak hanya sekadar unggul dari segi kuantitas populasi, tetapi juga mampu tampil unggul secara kualitas dan menjadi pemain utama di panggung ekonomi syariah internasional.



