Jakarta, MCNID.net--Di balik khidmatnya persiapan menyambut musim haji 2026, sebuah kisah humanis penuh keteladanan terekam di sela-sela acara Konsolidasi Akbar Penyelenggaraan Haji 2026 yang digelar di White House Wedding Hall.


Seorang petugas haji, Muhammad Hanif, membagikan pengalamannya di akun Facebook pribadinya @Muhammad Hanif saat bertemu langsung dengan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis.


Pertemuan singkat pasca-jamuan makan malam tersebut mengungkap bagaimana sisi bersahaja dan rendah hati (tawadhu) yang melekat pada diri sang ulama.


Hanif menceritakan, momen itu bermula saat dirinya melihat sosok Kiai Cholil di antara para tokoh yang hadir. Di dalam hatinya, sempat muncul rasa penasaran sekaligus ragu, apakah tokoh besar asal Jerengoan, Sampang, Madura itu masih mengingat dirinya.


"Saya menyapanya, sambil diam-diam mencari tahu, apakah tokoh asal Jerengoan Sampang Madura ini masih mengingat sosok tidak penting seperti saya," tulis Hanif dikutip MCNID.net, Jumat (5/6/2026). 


Ia mencoba mengaitkan ingatan pada momen masa lalu, saat keduanya pernah bertemu dan berswafoto bersama dalam acara Reuni dan Halal Bihalal Ikatan Bani Reden Ahmad (IKBA) di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo beberapa waktu lalu.


Namun, seluruh keraguan dan rasa sungkan Hanif langsung cair seketika. Respons yang diberikan Kiai Cholil Nafis justru sangat hangat dan jauh dari kesan formal yang kaku. Saat Hanif meminta izin untuk berfoto bersama sebelum beranjak meninggalkan ruangan, Kiai Cholil tanpa ragu langsung merangkul pundak sang petugas haji dengan penuh keakraban.


Bagi Hanif, gestur spontan tersebut bukan sekadar pose untuk kamera, melainkan sebuah bentuk penghargaan yang tulus dari seorang ulama besar kepada seorang petugas di lapangan. Rangkulan hangat itu memberikan kesan emosional yang mendalam dan menjadi suntikan semangat tersendiri baginya yang akan bertugas mengawal kelancaran ibadah haji 2026.


Pertemuan singkat di sudut White House Wedding Hall itu pun melahirkan sebuah refleksi filosofis yang mendalam bagi Hanif tentang arti sebuah kerendahan hati.


"Sesekali kadang perlu dekat dengan orang besar, agar merasakan nikmatnya menjadi orang kecil," pungkas Hanif penuh kesan.