Makassar, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH M Cholil Nafis, melakukan kunjungan strategis ke Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Ghazali. 


Dalam kunjungannya, kiai yang akrab disapa Kiai Cholil ini menilai posisi UIM Al-Ghazali sebagai kampus yang menjadi benteng kaderisasi dan sanad keilmuan Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan (Sulsel). 


"UIM Al-Ghazali ini adalah salah satu benteng pertahanan ideologi kita di Sulawesi Selatan. Di sini, sanad keilmuan, tradisi pesantren, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dirawat dengan sangat baik," ujar Kiai Cholil dikutip dari akun Instagram pribadinya @cholilnafis, Rabu (15/7/2026). 


Menurutnya, nilai-nilai Islam yang moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan berkeadilan (i'tidal) telah ditanamkan sejak dini oleh UIM Al-Ghazali kepada mahasiswa sebagai fondasi utama dalam berpikir, bersikap, dan berkhidmat kepada masyarakat.


Lebih lanjut, Kiai Cholil Nafis menekankan pentingnya model pendidikan yang diterapkan oleh UIM Al-Ghazali. Kampus ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang tinggi tidak boleh dipisahkan dari keluhuran adab dan semangat pengabdian.


"Seorang kader NU tidak cukup hanya menjadi intelektual yang unggul secara akademik. Di era modern ini, kita butuh sarjana yang memiliki integritas moral, menghormati para ulama, mencintai tradisi leluhur, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpijak pada prinsip syariat," tegas pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini.


Menurutnya, perpaduan antara kekuatan sains-teknologi dan ruh pesantren inilah yang menjadi ciri khas sekaligus keunggulan utama pendidikan tinggi di bawah naungan NU.


Kunjungan ini juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh civitas akademika UIM Al-Ghazali. Menapakkan kaki dan berproses di kampus ini dinilai sebagai bagian dari menyambung estafet perjuangan para ulama NU dalam membangun peradaban bangsa.


Kiai Cholil berharap, UIM Al-Ghazali terus konsisten melahirkan kader-kader yang tidak hanya teguh menjaga akidah Aswaja, tetapi juga setia lahir batin kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. 


"Nilai-nilai ke-NU-an di kampus ini tidak boleh hanya berhenti di dalam ruang kelas atau dipelajari sebagai teori saja. Nilai-nilai itu harus dihidupkan, diaktualisasikan, dan diwujudkan dalam pengabdian nyata demi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan," kata Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.