Surabaya, MCNID.net--Operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi telah resmi dinyatakan berakhir pada Rabu (1/7/2026). Penutupan ini dilakukan seiring dengan mendaratnya kloter terakhir, UPG-43, di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada pukul 17.05 WITA yang membawa 242 jamaah.


Meski seluruh rangkaian fase pemulangan telah usai, Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan), menegaskan bahwa pelayanan dan tanggung jawab negara terhadap jamaah haji Indonesia tidak serta-merta berhenti.


Pemerintah memastikan akan tetap memberikan pendampingan penuh dan mengawal pengobatan 60 jamaah haji Indonesia yang saat ini masih menjalani perawatan medis di berbagai Rumah Sakit (RS) di Arab Saudi.


"Alhamdulillah, seluruh jamaah haji Indonesia telah kembali ke Tanah Air dengan selamat. Namun, meski operasional haji secara resmi telah berakhir, pelayanan negara kepada jamaah belum sepenuhnya berhenti. Saat ini, masih ada 60 jamaah yang harus menjalani perawatan medis di rumah sakit Arab Saudi," ujar Menhaj Gus Irfan saat memberikan keterangan pers di Surabaya, Rabu (1/7/2026).


Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen melakukan pemantauan ketat secara berkala terhadap kondisi 60 jamaah tersebut. Tim medis dan perwakilan pemerintah di Arab Saudi akan terus mendampingi mereka sampai seluruh jamaah dinyatakan sembuh, laik terbang, dan siap dipulangkan ke Indonesia.


Selain penanganan medis bagi jamaah yang sakit, Gus Irfan juga memastikan bahwa proses pemenuhan hak-hak jamaah lainnya terus berjalan di latar belakang. Salah satunya adalah pengawalan proses klaim asuransi bagi jamaah haji yang wafat selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci agar dapat segera dicairkan sesuai ketentuan yang berlaku.


Tantangan operasional tahun ini terbilang besar mengingat beragamnya karakteristik jamaah, antara lain, terdapat 44.247 ribu jamaah lanjut usia (lansia), 170.700 ribu jamaah berisiko tinggi, 370.000 ribu jamaah berkebutuhan khusus, dan 275 jamaah pengguna kursi roda. 


Demi mengantisipasi kerawanan tersebut, Kemenhaj sebelumnya telah menggelar layanan kesehatan berlapis, mulai dari penempatan tenaga kesehatan di setiap kloter, pengoperasian klinik satelit, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), hingga kerja sama taktis dengan rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi.


Kondisi jamaah sakit yang masih tertinggal di Arab Saudi ini juga menjadi salah satu poin penting yang masuk dalam catatan evaluasi Kemenhaj. Gus Irfan menegaskan, ke depan pihak kementerian akan memperketat dan menguatkan implementasi istithaah (kemampuan) kesehatan jamaah sebelum diberangkatkan.


"Kami mencatat masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait layanan di Mina dan penguatan implementasi istithaah kesehatan. Seluruh catatan tersebut akan menjadi fokus evaluasi agar penyelenggaraan haji ke depan semakin profesional, aman, dan nyaman," kata Menhaj.


Bersamaan dengan penutupan operasional ini, Gus Irfan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh petugas lapangan yang telah mengabdi dengan ikhlas, serta seluruh pemangku kepentingan yang membantu menyukseskan kepulangan jamaah kembali ke fajar nusa. Kemenhaj kini resmi bersiap mematangkan strategi baru untuk menyambut musim haji 1448 H/2027 M.