Jakarta, MCNID.net--Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai bahaya penumpukan lemak di rongga perut. 


Pasalnya, lemak perut terbukti jauh lebih berbahaya dibandingkan lemak di bagian tubuh lain karena aktif memicu gangguan metabolik seperti diabetes, hipertensi, gangguan kolesterol, hingga penyakit jantung.


Ketua Umum PB Perkeni, Prof. dr. Em Yunir, menjelaskan bahwa lemak di rongga perut bukan sekadar penumpukan massa tubuh biasa, melainkan organ aktif yang mengandung berbagai hormon dan mediator inflamasi.


"Lemak di rongga perut itu lebih 'jahat' dari lemak di tempat lain. Dia mengandung banyak hormon lain yang terus bergerak dan merangsang peradangan dalam tubuh," ujar Yunir dalam peluncuran kampanye edukasi obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat (14/8/2026).


Yunir menambahkan, salah satu dampak berbahaya dari penumpukan lemak perut adalah resistensi insulin. Kondisi ini memicu munculnya berbagai masalah kardiometabolik, terutama pada mereka yang memasuki usia 50 hingga 60 tahun.


Selain itu, ia menekankan bahwa berat badan tinggi tidak selalu mencerminkan massa otot yang besar. Banyak kasus kenaikan berat badan justru disebabkan oleh penumpukan lemak berlebih. Karena itu, masyarakat dianjurkan tidak hanya menimbang berat badan, tetapi juga rutin mengukur lingkar perut dan melakukan pemeriksaan komposisi tubuh.


Berdasarkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa Kementerian Kesehatan (konsensus Asia Pasifik), batas aman lingkar pinggang adalah maksimal 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan.


Sebagai langkah pencegahan, Perkeni mengimbau masyarakat untuk membiasakan deteksi dini sejak usia muda melalui pemantauan postur tubuh, pengukuran lingkar perut secara berkala, serta konsisten menerapkan pola makan sehat dan gaya hidup aktif.