Jakarta, MCNID.net--Persoalan jodoh kerap kali memicu pertanyaan mendasar di tengah masyarakat. Jika garis hidup dan pasangan seseorang sudah dituliskan oleh Allah SWT jauh sebelum manusia dilahirkan, mengapa manusia masih dituntut untuk melakukan ikhtiar?
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, memberikan penjelasan mendalam mengenai kaitan antara takdir dan kewajiban berupaya dalam hal mencari pasangan hidup.
Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini menegaskan bahwa takdir Allah terkait perjalanan hidup makhluk-Nya memang telah ditetapkan sejak lampau. Bahkan, penetapan tersebut telah tertulis puluhan ribu tahun sebelum alam semesta diciptakan.
"Takdir-takdir makhluk Allah ini sudah ditakdirkan sebelum menciptakan langit dan bumi, yaitu 50 ribu tahun sebelumnya. Jadi siapa suaminya, siapa istrinya, itu sudah ada takdirnya," ujar Kiai Cholil, Selasa (8/9/2026).ย
Kendati demikian, Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan bahwa keberadaan takdir tidak serta-merta menghapus kewajiban manusia untuk berusaha. Dalam ajaran Islam, terdapat takdir yang bersifat muโallaq atau takdir yang bergantung pada upaya dan doa manusia. Allah akan memudahkan jalan seseorang menuju takdirnya sesuai dengan ikhtiar yang ia lakukan.
"Semua dimudahkan menuju apa yang diciptakan untuknya. Kalau kita menjalani sesuatu kok rasanya dimudahkan, inilah jalannya. Tapi kita tetap harus berupaya untuk menggapai takdir itu," tegasnya.
Menurut Kiai Cholil, bentuk ikhtiar dalam menjemput jodoh terbagi menjadi dua jalur utama, yakni ikhtiar lahiriah dan ikhtiar batiniah.
Dari sisi lahiriah, seseorang perlu memantaskan diri menjadi pribadi yang baik, bersikap ramah, serta menjaga tata krama dalam berinteraksi. Seseorang yang mencari pasangan saleh atau salehah hendaknya terlebih dahulu memperbaiki kualitas diri dan agamanya.
Sementara dari sisi batiniah, ikhtiar dilakukan melalui kekuatan doa. Kiai Cholil menekankan bahwa doa memiliki kedudukan yang sangat krusial karena mampu mengubah ketetapan atau takdir yang masih menggantung.
"Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Doa mendekatkan kita kepada Allah, dan Allah yang akan memberikan jalan kemudahan," tambahnya.
Sebagai contoh konkret, Kiai Cholil memaparkan kisah Nabi Musa AS saat berada di Madyan dalam kondisi asing, lapar, dan tidak memiliki pekerjaan. Nabi Musa memanjatkan doa:ย
ุฑูุจูู ุงูููููู ููู ูุงู ุงูููุฒูููุชู ุงูููููู ู ููู ุฎูููุฑู ููููููุฑู
Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku." (QS Al-Qasas: 24)
Sebuah ungkapan ketidakberdayaan dan kebutuhan yang sangat besar akan kebaikan Allah. Berkat doa tersebut, Allah tidak hanya memberikan jalan keluar atas kesulitannya, tetapi juga mempertemukannya dengan pasangan hidup.
Oleh karena itu, Kiai Cholil mengimbau para generasi muda maupun para orang tua untuk tidak hanya pasrah menunggu nasib. Menurutnya, ikhtiar yang sungguh-sungguh, diimbangi dengan perbaikan kualitas agama dan doa yang tak putus, merupakan kunci utama dalam menjemput jodoh yang membawa keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.



