Tegal, MCNID.net--Upaya menjamin kesucian dan kehalalan produk yang dikonsumsi masyarakat Muslim Indonesia terus diperkuat. Menjawab tingginya titik kritis kehalalan pada bahan baku impor, Pusat Sains Halal IPB University bergerak cepat mengamankan rantai pasok domestik melalui pemanfaatan kulit ikan sebagai alternatif kolagen yang 100 persen halal dan suci.


Langkah strategis ini diwujudkan melalui Workshop Kolagen Gelatin Halal dari Kulit Ikan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Tegal, Jawa Tengah, Rabu (1/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari Program BESTARI SAINTEK yang digagas IPB University untuk mentransformasikan riset laboratorium menjadi solusi konkret bagi industri dan umat.


Ketua Pusat Sains Halal IPB University, Prof Khaswar, mengungkapkan bahwa pasar domestik saat ini masih berada dalam posisi rentan karena sangat bergantung pada pasokan gelatin luar negeri yang secara syariat memiliki titik kritis kehalalan yang sangat tinggi.


"Kolagen dan gelatin selama ini mayoritas berasal dari babi. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengembangkan teknologi proses yang tepat guna menghasilkan alternatif yang dijamin suci dan halal," ujar Prof Khaswar dalam keterangan yang diterima MCNID, Sabtu (4/7/2026).


Lebih lanjut, Prof Khaswar menjelaskan bahwa urgensi pemenuhan bahan baku halal ini sangat mendesak mengingat cakupan pemanfaatannya yang sangat luas di masyarakat. Mulai dari penggunaan cangkang kapsul di industri farmasi dan obat-obatan, pengental pada produk pangan harian, hingga bahan aktif dalam kosmetik yang dipakai sehari-hari.


Sebagai negara dengan wilayah laut yang luas, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mandiri secara produk halal. Ketua Tim Pelaksana Workshop sekaligus Ketua Asosiasi Co-product Akuatik Indonesia (InCoPro), Prof Mala Nurilmala, menjelaskan bahwa kulit ikan yang selama ini kerap terbuang sebagai limbah industri pengolahan ikan, ternyata menyimpan berkah besar sebagai sumber kolagen halal berkualitas tinggi.


"Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kulit ikan bukan lagi dipandang sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi berupa hydrolyzed collagen atau gelatin halal. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan industri berbasis bioekonomi sirkular," papar Prof Mala.


Agar inovasi ini dapat langsung diadopsi, para Guru Besar IPB University tidak hanya memaparkan teori, melainkan mengajak para peserta, terdiri dari pelaku usaha, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah, langsung ke laboratorium pengolahan SUPM Tegal.


Di dalam laboratorium, peserta dilatih secara runut dan presisi, mulai dari penyiapan bahan baku kulit ikan yang bersih, proses ekstraksi dengan teknologi tepat guna, hingga mengenali karakteristik akhir dari hydrolyzed collagen yang memenuhi standar mutu.


Antusiasme peserta sangat tinggi sepanjang sesi praktikum dan diskusi. Berbagai pertanyaan strategis dilontarkan, terutama mengenai pemenuhan standar mutu produk, proses sertifikasi halal, hingga hitungan kelayakan bisnis jika diproduksi dalam skala rumahan maupun industri kecil.


Melalui edukasi berbasis praktik ini, peserta disadarkan bahwa dengan sentuhan teknologi dan jaminan halal, kulit ikan yang tadinya dianggap limbah dapat memiliki nilai jual berkali-kali lipat.


Keberhasilan workshop ini menjadi potret ideal kolaborasi A-G-C-M (Akademisi, Pemerintah, Industri, dan Masyarakat). Dengan menyatunya kekuatan IPB University, SUPM Tegal, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal, akselerasi kemandirian bahan baku halal dalam negeri dinilai bukan lagi hal yang mustahil.


Melalui Program BESTARI SAINTEK, para Guru Besar IPB University menegaskan komitmennya untuk terus mengawal inovasi sains halal ini agar tidak mandek di rak perpustakaan atau jurnal ilmiah belaka.


Output akhir yang dibidik adalah terciptanya ekosistem hilirisasi riset yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata, melindungi konsumsi umat, serta mendongkrak daya saing sektor perikanan Indonesia di kancah global.