Jakarta, MCNID.net--Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kerap diwarnai dengan aneka perayaan yang penuh dengan nuansa suka cita. Namun, di balik kemeriahan dan tradisi yang berlangsung di tengah masyarakat, perayaan ini menyimpan dimensi teologis yang sangat mendalam. 


Salah satu pandangan yang menarik perhatian datang dari ulama pakar hadis terkemuka asal Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Dalam karya terkenalnya, Haul al-Ihtifal bi Dzikri al-Maulid an-Nabawi asy-Syarif, beliau memaparkan fenomena spiritual yang luar biasa: rasa gembira atas kelahiran Rasulullah SAW bahkan memiliki daya yang mampu meringankan azab di akhirat.


Landasan utama dari pandangan ini bersumber dari sebuah riwayat otentik dalam kitab Shahih al-Bukhari yang mengisahkan paman Nabi, Abu Lahab.


Meskipun dalam sejarah Islam Abu Lahab dikenal sebagai salah satu penentang keras dakwah Rasulullah SAW hingga akhir hayatnya, terdapat sebuah pengecualian khusus terkait peristiwa kelahiran sang keponakan. 


Ketika budak perempuannya yang bernama Tsuwaibah datang membawa kabar gembira bahwa Nabi Muhammad SAW telah lahir, Abu Lahab terhanyut dalam rasa bahagia yang amat sangat. Sebagai bentuk luapan kegembiraannya, ia seketika memerdekakan Tsuwaibah.


Atas kebahagiaan yang sesaat itu, Allah SWT memberikan balasan berupa keringanan siksa baginya setiap hari Senin di alam kubur. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menegaskan bahwa jika seorang tokoh kafir yang memusuhi ajaran Islam saja bisa mendapatkan manfaat dan keringanan azab dari Allah hanya karena pernah merasa gembira menyambut kelahiran Nabi, maka betapa besarnya ganjaran dan Rahmat yang akan dilimpahkan kepada umat Islam yang beriman. Umat Islam meluapkan kegembiraannya sepanjang hidup dengan mendasarkan diri pada tauhid dan rasa cinta yang tulus kepada Baginda Nabi.


Penjelasan dari ulama Makkah ini memberikan pijakan teologis yang kuat bahwa substansi utama dari perayaan Maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan (al-farah wa as-surur). Perasaan bahagia saat mengingat momentum hadirnya sang pembawa Rahmat bagi alam semesta bukanlah perkara sepele dalam syariat, melainkan sebuah amal hati yang bernilai tinggi. Keringanan azab yang didapatkan Abu Lahab menjadi bukti konkret betapa mengagungkannya hari kelahiran Rasulullah di sisi Allah SWT.


Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai rutinitas tahunan atau perayaan fisik semata. Melalui momentum ini, rasa gembira yang hadir dalam dada setiap Muslim semestinya ditransformasikan menjadi energi positif untuk meneladani akhlak mulia Nabi, memperbanyak amalan saleh, serta mempererat tali persaudaraan sesama umat. 


Rasa bahagia yang autentik atas kelahiran Rasulullah SAW inilah yang menjadi kunci untuk meraih syafaat dan ridha Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.