Makkah, MCNID.net--Ibadah Dam (denda) jamaah haji Indonesia tahun ini tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga membawa misi kemanusiaan yang besar.
Sebagian dari daging hewan Dam jamaah Indonesia direncanakan akan didistribusikan untuk membantu masyarakat di Gaza, Palestina, serta masyarakat di Tanah Air yang membutuhkan.
Rencana tersebut diungkapkan oleh Ketua Musyrif Diniy, KH M Cholil Nafis, usai melakukan kunjungan langsung ke kompleks penyembelihan hewan Adahi di Makkah, Arab Saudi, pada Senin pagi (25/5/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Kiai Cholil hadir bersama Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan), Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak dan Wakil Menteri Agama RI Romo Muhammad Syafi'i.
"Dalam permintaan Menteri Haji RI, untuk daging Dam haji jemaah Indonesia, sebagiannya agar dikirim ke Palestina, khususnya masyarakat Gaza, dan sebagiannya bisa dikirim ke Indonesia," kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
Kunjungan ini menjadi krusial mengingat besarnya jumlah jamaah haji Indonesia yang mempercayakan pembayaran Dam mereka melalui jalur resmi Adahi. Tercatat ada lebih dari 129 ribu jemaah Indonesia yang telah membayar Dam seharga 720 Riyal Saudi (sekitar Rp3 juta) per orang.
Kiai Cholil mengungkapkan, secara keseluruhan, Adahi harus mengelola dan menyembelih sekitar 1,2 juta ekor kambing dari seluruh dunia. Hebatnya, seluruh proses penyembelihan massal tersebut harus diselesaikan dalam durasi yang sangat terbatas.
"Di Adahi ini penyembelihan hewan Dam hanya dalam durasi 48 jam, yaitu selama 3 hari Tasyrik," jelas Kiai Cholil.
Untuk mengejar target waktu yang super ketat, Adahi mengandalkan sistem manajemen yang efisien dan tenaga kerja profesional. Mayoritas tenaga penyembelih (jagal) didatangkan langsung dari Mesir.
Sistem kerja di lapangan dibagi ke dalam beberapa shift, di mana setiap orang rata-rata mampu menyembelih 250 hingga 300 ekor kambing dalam sehari.
Meskipun mengejar kecepatan, Kiai Cholil menegaskan bahwa aspek fikih dan keabsahan ibadah tetap menjadi prioritas utama yang dikawal oleh tim Musyrif Diny.
Kiai Cholil menerangkan bahwa proses pemotongan dilakukan secara manual demi menjaga keabsahan, sementara proses setelahnya dikombinasikan dengan teknologi modern.
"Begitu juga pengulitan dan pencacahannya dilakukan secara manual dan mesin. Saat itu (setelah dicacah) langsung diantar ke ruang penyimpanan. Penyembelihan dipastikan sesuai dengan ketentuan syariah," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat.



