Jakarta, MCNID.net--Tantangan umat Islam di era modern dinilai semakin kompleks dengan maraknya gerakan yang mencoba mengaburkan nilai-nilai agama demi kepentingan tertentu.


Menanggapi fenomena ini, Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin menegaskan bahwa peran para penghafal Alquran (hamalatul Qur'an) kini jauh lebih besar daripada sekadar menjaga keaslian teks secara lisan, melainkan menjadi garda depan pertahanan akidah umat.


Pesan tersebut disampaikan KH Ma'ruf Amin saat memberikan sambutan pada acara Wisuda Hafidz ke-16 Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah di Jakarta, Selasa (16/6/2026). 


Di hadapan 350 wisudawan dan wisudawati, ia mengingatkan adanya arus gerakan terstruktur yang berupaya menjauhkan masyarakat dari tuntunan Alquran yang murni.


Menurutnya, upaya pembelokan ini paling rawan terjadi ketika agama ditarik ke dalam ranah tata kelola kehidupan sosial manusia, yang kerap kali sarat akan kepentingan kelompok dan hawa nafsu pribadi.


"Banyak gerakan untuk membelokkan kita dari pembimbingan dan tuntunan Alquran. Itulah maka para hamalatul Qur'an ini menjadi tugasnya berat, untuk menjaga umat supaya tidak mengalami tahwil (pembelokan) atau talbis (penyamaran kebenaran)," kata Kiai Ma'ruf dikutip dari laman resmi Kemenag RI, Selasa (16/6/2026). 


Guna memikul misi besar melindungi umat dari penyesatan tersebut, Kiai Ma'ruf menyoroti pentingnya transisi fundamental dalam metode belajar para hafidz. 


Menghafal kalam Ilahi (tilawah) diakui sebagai langkah awal yang sangat mulia, namun tingkatannya wajib dinaikkan menuju proses pemahaman mendalam dan penelaahan kritis (iqra').


"Jangan Alquran itu hanya sekadar dibaca dan dihafal. Tapi yang namanya iqra' itu adalah bukan hanya membaca, tapi juga at-tathallu' (mendalami), im'anun-nazhar (merenungkan, meneliti), dan juga termasuk mentadaburi Al-Qur'an itu," tambahnya.


Sejalan dengan visi tersebut, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang turut hadir menekankan metodologi ilmiah-spiritual yang spesifik bagi para penghafal Al-Qur'an agar bisa meresapi esensi tertinggi kitab suci.



Menag memaparkan rumus tiga 'C' yang harus dipraktikkan, yakni memaksimalkan concentration (konsentrasi logika), yang diimbangi dengan contemplation (kontemplasi spiritual), serta diakhiri dengan consecration (kepasrahan total kepada Allah SWT). Sinergi ini dinilai mampu melahirkan generasi penjaga agama yang tidak kaku dan bijaksana.


Sebagai informasi, Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah yang menyelenggarakan wisuda ini merupakan lembaga pendidikan yang konsisten berdiri sejak tahun 2005.


Yayasan ini berfokus pada integrasi pendidikan tahfidz Alquran yang dipadukan dengan pendalaman turats (kitab kuning) sebagai metodologi utama untuk memahami esensi bacaan Alquran secara utuh dan kokoh.