Makkah, MCNID.net--Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis, menegaskan bahwa ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar ritual menyembelih hewan ternak.

Menurutnya, kurban adalah simbolisasi dari pengorbanan yang nyata untuk kemanusiaan dan kemajuan sektor-sektor kehidupan masyarakat.

Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan, dalam studi fikih kurban memang sering disebut dengan istilah _udhhiyah_ karena penyembelihannya dilakukan pada waktu dhuha. Namun, esensi sejati dari ibadah ini adalah _tadlhiyah_ yang berarti pengorbanan di jalan Allah SWT.

"Jika menyembelih udhhiyah merupakan ibadah material yang ritual, maka tadlhiyah atau pengorbanan di jalan Allah SWT merupakan ibadah keadaban yang memajukan sektor-sektor kehidupan yang lebih luas," ujar Kiai Cholil, Selasa (19/5/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan bahwa ibadah kurban memiliki akar sejarah yang panjang, di mana Nabi Ibrahim AS menjadi peletak batu pertamanya.

Dia menambahkan, peristiwa ketika Nabi Ibrahim bersedia menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail AS, demi memenuhi perintah Allah, menjadi bukti otentik bahwa kurban menuntut keikhlasan dan keteguhan hati yang luar biasa.

Menurut Kiai Cholil, kepatuhan Nabi Ibrahim bukanlah bentuk ketaatan yang membabi buta atau _taqlid_, melainkan kesadaran penuh atas kebenaran perintah Allah SWT.

"Allah SWT memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada umat yang akan datang. Adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga, dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah SWT? Dan adakah mereka juga sanggup memikul amanah sebagai khalifah di muka bumi?" tuturnya.

Lebih lanjut, Kiai Cholil mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada keraguan batin saat hendak berkurban. Ia menukil pesan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin tentang bagaimana syetan sering membisiki manusia untuk mengurungkan niat baik dengan dalih takut tidak ikhlas.

"Syaitan selalu membisiki kita: ‘Buat apa engkau beribadah kalau tidak ikhlas, lebih baik sekalian tidak beribadah’. Ini godaan yang harus dilawan," tegasnya.

Ia merujuk pada Alquran Surat Al-Hajj ayat 37, Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari dalam jiwa.

Hal ini juga selaras dengan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, melainkan hati dan amal perbuatan.

Kiai Cholil memberikan pesan moral yang cukup mendalam bagi masyarakat modern. Ia mengingatkan kembali bagaimana Rasulullah SAW setiap tahunnya selalu berkurban dan tidak pernah melewatkannya, meskipun hidup dalam kesederhanaan materi.

"Meskipun dari sisi ekonomi beliau termasuk orang yang menjalani hidup sederhana, tidak mempunyai rumah yang indah nan megah, bahkan tempat tidurnya hanya terbuat dari tikar anyaman daun kurma, Rasulullah SAW setiap tahun selalu menyembelih hewan kurban," ungkapnya.

Melalui momentum Idul Adha, Kiai Cholil mengajak umat Islam untuk menjadikan kurban sebagai gerakan dinamis yang tiada henti dalam menebar kebaikan secara sosial, membantu fakir miskin, dan menjadi motor penggerak kesejahteraan kemanusiaan.