Makkah, MCNID.net---Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, mengajak seluruh jamaah haji Indonesia untuk merenungkan kembali esensi besar dari ibadah haji. Belajar dari rekam jejak sejarah, Wakil Ketua Umun MUI ini berharap alumni haji tahun ini tidak sekadar membawa pulang gelar sosial.

Melainkan mampu menjadi motor penggerak perubahan dan pembangun peradaban di Tanah Air. Harapan besar tersebut disampaikan Kiai Cholil di Makkah di sela-sela persiapan menyambut fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Senin (18/5/2026).

Kiai Cholil mengatakan, ibadah haji memiliki dimensi spiritual dan sosial yang sangat kuat jika dimaknai dengan benar, berkaca pada apa yang telah dicontohkan oleh para ulama nusantara terdahulu.

"Seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban. Dan itu dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia pada saat itu sebelum kemerdekaan, sehingga bisa melahirkan kemerdekaan dari para ulama atau jamaah yang berangkat haji pada saat itu," kata ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur, pada 1 Juni 1975 ini.

Kiai Cholil juga mengingatkan agar jamaah meluruskan kembali niatnya dan tidak terjebak dalam aktivitas yang bisa merusak pahala ibadah.

"Kita harus mewaspadai motivasi kita berhaji. Jangan sampai energi dan biaya yang besar habis untuk hal yang sia-sia," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini.

Lebih lanjut, Kiai Cholil memgimbau kepada jamaah agar ibadah haji tidak untuk gaya-gayaan, pamer, atau flexing demi mendapatkan pengakuan sosial di Tanah Air.

Selain itu, Kiai Cholil mengimbau kepada jamaah untuk menghindari fenomena penggunaan kamera ponsel di depan Masjidil Haram yang sering kali dipakai untuk kepentingan riya atau membuat konten iklan.

Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini mengingatkan bahwa apabila hal ini dilakukan oleh jamaah akan membuat jamaah tidak akan mendapat apresiasi dari Allah SWT.

"Jangan sampai kita ini me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya," tegasnya.

Lebih lanjut, Kiai Cholil mengimbau kepada jamaah untuk tidak memandang ibadah haji sebagai ajang jalan-jalan, ziarah, atau wisata rekreasi.

Selama masa tunggu pelaksanaa ibadah haji, Kiai Cholil mengimbau jamaah untuk menghindari aktivitas ini karena menghabiskan tenaga untuk aktivitas fisik yang tidak perlu, sehingga staminanya terkuras sebelum puncak haji dimulai.

"Tipe ini tidak akan mendapatkan keutamaan haji yang maksimal. Jamaah diharapkan datang ke Tanah Suci semata-mata untuk tunduk, taat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, meskipun harus membayar mahal dan menguras kekuatan fisik," tegasnya.

CEO Amanah Zakat ini mendoakan agar jamaah haji Indonesia tahun ini bisa meniru rekam jejak sejarah para ulama terdahulu ketika kembali ke tanah air.

Menurutnya, esensi dari haji mabrur yang sesungguhnya adalah lahirnya perubahan positif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Jelang pelaksanaan puncak ibadah haji, Kiai Cholil kembali mengimbau jamaah untuk menahan diri dari euforia "haji mumpung". Ia menyarankan jamaah untuk fokus menjaga stamina, memperbanyak zikir, iktikaf di hotel jika fisik terbatas, serta memastikan istirahat dan nutrisi yang cukup demi kelancaran ibadah di Armuzna nanti.