Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis mengecam dugaan kasus pencabulan terhadap puluhan santriwati di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ndolo Kusumo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia mendorong Majelis Masyayikh di bawah Kementerian Agama memperketat monitoring untuk mencegah penyimpangan dan kekerasan seksual berulang di pondok pesantren.


Kiai Cholil mengatakan, kasus penyimpangan dan kekerasan seksual di pondok pesantren tidak hanya diproses hukum, tetapi menjadi momentum memperketat pengawasan, terutama yang dilakukan Majelis Masyayikh.

"Kami minta sebenarnya ini untuk ditindaklanjuti menjadi langkah preventif dari lembaga terkait bagaimana ada pengawasan terhadap lembaga pendidikan untuk mengintensifkan pelaksanaan pendidikan yang baik dan mewaspadai dari penyimpangan-penyimpangan di dalam penyelenggaraan pendidikan itu," kata Kiai Cholil, Senin (4/5/2026).

Kiai Cholil menekankan pentingnya pengawasan dan evaluasi yang dilakukan Majelis Masyayikh agar penyelenggaraan pendidikan, terlebih pesantren, bisa berjalan sesuai peraturan, etika dan tujuan berbangsa.

Selain itu, menurut Kiai Cholil, setiap bentuk pelanggaran, termasuk penyimpangan dan kekerasan seksual di pondok pesantren harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menekankan, tindakan tegas terhadap pesantren yang melakukan penyimpangan sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik dan mencegah munculnya tindakan main hakim sendiri.


"Saya secara pribadi maupun sebagai Wakil Ketua Umum MUI mendukung penuh atas penegakan hukum terjadinya, terduga atau indikasi dugaan adanya pelecehan seksual, penyimpangan dari sang pengasuh kepada murid-muridnya, santri-santrinya," ujarnya.

Lebih lanjut, CEO Amanah Zakat ini mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mengawasi lingkungan pendidikan dan tidak ragu melaporkan jika menemukan indikasi penyimpangan dan kekerasan seksual.

Kiai Cholil menilai jika pengawasan terhadap pondok pesantren diperkuat dan melibatkan semua pihak, maka bisa menjadi tempat yang aman dalam mencetak generasi masa depan bangsa.

"Dan berharap kepada masyarakat terus memantau terhadap lembaga-lembaga pendidikan kepada kita semua untuk melihat jika ada penyimpangan-penyimpangan dimanapun," ucap kiai berdarah Madura ini. (Sadam, ed Sagara)