Makkah, MCNID.net--Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis, mengimbau seluruh jamaah haji Indonesia untuk menahan diri dan tidak terjebak dalam euforia "haji mumpung" selama masa tunggu menjelang puncak ibadah haji. Jamaah diminta untuk membatasi aktivitas fisik yang tidak perlu, seperti ziarah dan jalan-jalan, demi menjaga stamina.

Menurut Kiai Cholil, ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik. Oleh karena itu, persiapan energi yang matang sebelum memasuki fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) adalah hal yang mutlak.

"Pertama, kita jangan 'haji mumpung' ketika dalam masa menunggu ini. Jangan sampai tenaga sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang apalagi hanya main-main atau jalan-jalan. Itu dikendali dulu. Tolong fokus kepada penyiapan stamina karena nanti haji membutuhkan fisik yang kuat," ujar KH Cholil Nafis di Makkah, Senin (18/5/2026).

Sebagai ganti dari aktivitas ziarah yang menguras energi, Wakil Ketua Umum MUI ini menyarankan jamaah untuk memperbanyak amalan ibadah di dalam ruangan atau hotel tempat menginap. 

Dia mengimbau jamaah untuk fokus fokus berzikir dan beriktikaf.

"Jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jamaah tidak perlu memaksakan diri setiap waktu shalat harus ke Masjidil Haram. Allah SWT Maha Mengetahui niat baik setiap hamba-Nya," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat. 

Lebih lanjut, Kiai Cholil meminta kepada Jamaah untuk menyempurnakan makanan bergizi dan memastikan waktu istirahat yang cukup.

Selain masalah fisik, Ketua Badan Pengurus DSN MUI juga memberikan sorotan tajam terkait penggunaan ponsel berkamera oleh jamaah di tanah suci.

CEO Amanah Zakat ini mengingatkan agar jamaah berhati-hati dan tidak sembarangan merekam, terutama hal-hal yang dilarang seperti melanggar privasi orang lain atau membuat konten iklan di depan Masjidil Haram.

Secara tegas, Kiai Cholil mengingatkan agar kamera HP tidak digunakan untuk kepentingan pamer atau flexing.

"Jangan sampai kita ini me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya," tegasnya.

Lebih lanjut, Kiai Cholil memetakan tiga model jamaah haji yang ada, di mana dua di antaranya harus diwaspadai agar tidak ditiru. 

Pertama, adalah tipe jamaah yang pamer, yakni orang yang berhaji hanya untuk gaya-gayaan dan mencari pengakuan sosial. Dia menegaskan tipe ini tidak akan mendapat apresiasi dari Allah SWT.

kedua, lanjutnya, rekreasi yakni orang yang menganggap haji sekadar jalan-jalan atau wisata bersenang-senang. 

"Tipe ini tidak akan mendapatkan keutamaan haji yang maksimal," kata ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur. 

ketiga, ungkapnya, tipe jamaah yang datang semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tunduk, dan taat sepenuhnya walau harus membayar mahal dan menguras fisik. Kiai Cholil mengatakan bahwa tipe inilah yang diharapkan ada pada seluruh jamaah Indonesia.


Kiai Cholil mendoakan agar seluruh jamaah haji Indonesia diberikan kelancaran dan diampuni dosa-dosanya. Ia berharap jamaah haji tahun ini bisa meniru rekam jejak sejarah para ulama terdahulu.

"Seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban. Dan itu dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia pada saat itu sebelum kemerdekaan, sehingga bisa melahirkan kemerdekaan dari para ulama atau jamaah yang berangkat haji pada saat itu," pungkasnya.