Kairo, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyerukan pentingnya penguatan benteng keluarga dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Imbauan tersebut disampaikannya saat menghadiri Konferensi Internasional Ke-11 Dar al-Ifta yang berlangsung pada 2-3 September 2026 di Kairo, Mesir.
Di hadapan para mufti, menteri, dan ulama dari 80 negara, Kiai Cholil menegaskan bahwa perlindungan keluarga di era modern tidak bisa lagi sekadar mengandalkan aturan hukum, pengawasan fisik, atau larangan semata.
"Perlindungan dari luar itu bersifat sementara. Langkah yang kita perlukan adalah beralih dari sekadar melindungi keluarga dari luar menuju pembangunan imunitas iman dan moral dari dalam," tegas Kiai Cholil dalam pidatonya dalam Konferensi Internasional ke-11 Sekretariat Jenderal Lembaga Fatwa Dunia di Kairo, Mesir yang berjudul Al-Usrah Al-Muslihah (Keluarga yang Memperbaiki), Rabu (2/3/2026).
Menurutnya, serbuan arus informasi, budaya luar, dan teknologi digital telah menembus ruang-ruang privat hingga ke dalam rumah. Karena itu, benteng pertahanan terbaik adalah membentuk karakter anggota keluarga yang memiliki imunitas keimanan, akal kritis, dan kesadaran moral yang kuat.
Lebih lanjut, dalam Konferensi yang mengangkat tema "Tantangan Keluarga di Tengah Transformasi Besar; Pendekatan Fatwa untuk Melindungi dan Membimbing Masa Depan Keluarga Serta Menjaga Identitas", Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menyoroti pentingnya merestorasi makna pernikahan di tengah tergerusnya nilai-nilai tradisi. Pernikahan, tegasnya, bukan sekadar hubungan yang didasari hawa nafsu atau pemuas hasrat sementara, melainkan sebuah ikatan suci (mitsaq), akad, tanggung jawab, dan misi peradaban.
Kiai Cholil juga mengajak para orang tua untuk mengubah pola pengasuhan di era digital. Pola hubungan yang terlalu kaku dan otoriter perlu digantikan dengan pendekatan yang berbasis dialog, partisipasi, dan kepercayaan.
"Anak-anak hari ini hidup di dunia yang sangat terbuka. Tidak cukup hanya melarang mereka, tetapi kita harus membangun daya kritis di dalam diri mereka agar mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang memudaratkan," ujarnya.
Mengakhiri pemaparannya pada konferensi internasional di bawah naungan Presiden Mesir Abdel Fattah as-Sisi tersebut, Kiai Cholil mengingatkan bahwa masa depan peradaban sangat bergantung pada kondisi keluarga saat ini.
"Keluarga yang tidak hanya saleh secara internal (shalih), tetapi juga aktif membawa perbaikan bagi lingkungannya (muslih), akan menjadi fondasi utama lahirnya generasi yang tangguh dan masyarakat yang beradab," tuturnya.



