Kalau kita menghitung secara matematis, rangkaian acara di perhelatan sebesar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) itu sebenarnya dipenuhi kerja-kerja yang adem dan substantif. Ratusan kiai dan akademisi duduk berjam-jam di ruang komisi merumuskan Bahtsul Masail—membahas krisis iklim, etika teknologi, hingga keadilan ekonomi warga. Di luar ruang sidang, diskusi intelektual juga tidak kalah menarik, baik yang disleenggarakan oleh warga NU maupun Banom dan tentu saja ada bazar UMKM yang bikin perputaran uang lokal mendadak kencang, plus silaturahmi kebudayaan yang hangat.
Kalau dipresentasekan, kegiatan yang adem, konstruktif, dan positif ini memakan porsi lebih dari 90 persen dari keseluruhan acara.
Tapi, coba tebak apa yang mendadak viral di media sosial dan jadi headline portal berita?
Cukup satu insiden: ketika rombongan massa pendukung salahsatu jagoan, konon pendukung Gus Yusuf (KH Yusuf Chudlori) melakukan aksi penerobosan dan pendobrakan gerbang arena sidang karena dipicu ketegangan syarat administratif pencalonan serta dinamika penetapan AHWA (Ahlul Halli wal Aqli).
Dalam hitungan detik, video aksi dorong gerbang, teriakan interupsi, dan aksi teriakan dan keributan langsung memenuhi lini masa. Berita tentang puluhan jam pembahasan rumusan fikih keumuman seketika amblas, kalah mentereng dibanding satu adegan pintu gerbang yang nyaris roboh.
Disini timbul pertanyaan yang sering bikin kita gemas: Apakah berita baik itu memang kurang eksposur, atau secara naluri alami manusia dan algoritma media, berita ribut-ribut itu memang jauh lebih gurih?
Naluri Bertahan Hidup dan Algoritma 'Cuan'
Menganggap berita positif cuma "kurang dipromosikan" sebenarnya agak terlalu polos. Realitasnya, otak manusia memang tidak dirancang untuk merespons semua informasi dengan kadar yang sama.
Secara evolusioner, kita mengidap apa yang disebut negativity bias. Nenek moyang kita bisa selamat di hutan bukan karena sibuk mengagumi indahnya pemandangan, tapi karena mereka sangat sigap mendeteksi ancaman di balik semak-semak. Keributan, konflik, dan aksi pendobrakan politik adalah bentuk "ancaman" modern yang secara otomatis memicu naluri penasaran dan kewaspadaan kita.
Media daring yang hidup dari attention economy dan algoritma sangat paham sifat alami ini. Berita soal "Muktamar Berhasil Merumuskan Peta Jalan Pendidikan" itu menenangkan, tapi jarang bikin tangan gatal untuk mengeklik. Sebaliknya, berita "Sidang Memanas, Gerbang Didobrak Massa" langsung memicu emosi: marah, kaget, atau penasaran.
Emosi-emosi inilah yang menggerakkan jempol untuk klik, tulis komentar pedas, dan bagikan ke grup WhatsApp. Di atas kertas industri, satu berita keributan bisa menyedot traffic puluhan kali lipat dibanding sepuluh berita tentang hasil sidang komisi. Berita buruk bukan sekadar jualan, tapi bahan bakar alami algoritma.
Sisi Liberasi: Pers Memang Bukan Panitia Acara
Tapi tunggu dulu. Menuduh media cuma sekadar "pemburu clickbait" juga tidak sepenuhnya fair. Dalam konteks kebebasan pers (liberasi), kecenderungan media menyoroti keributan sebenarnya punya fungsi ideologis yang krusial: watchdog alias anjing penjaga.
Pers yang sehat tidak pernah dirancang untuk jadi humas atau pemandu sorak (cheerleader) bagi lembaga mana pun. Tugas utama wartawan adalah menunjuk bagian yang retak dan menyingkap dinamika kekuasaan yang berusaha ditutupi di balik narasi serba-harmonis.
Ketika massa menerobos gerbang sidang, bagi panitia itu mungkin "berita buruk" yang bikin malu. Tapi bagi publik luas, liputan itu adalah berita baik. Itu bukti bahwa pers sedang bekerja memastikan transparansi, agar proses suksesi kepemimpinan tidak berjalan dalam ruang gelap yang manipulatif.
Kalau media cuma menayangkan berita yang santun, adem, dan serba-sukses, pers kita sedang berubah jadi brosur kehumasan.
Naluri Lapangan Wartawan
Di level tapak, para wartawan di lapangan juga punya insentif profesional sendiri. Sepanjang sejarah jurnalisme, penghargaan pers bergengsi hampir tidak pernah diberikan untuk liputan acara seremonial yang manis. Hadiah tertinggi selalu jatuh ke liputan investigasi yang berhasil membongkar krisis atau benturan kepentingan.
Bagi seorang wartawan di arena Muktamar, menangkap momen penerobosan gerbang atau ketegangan antar-faksi punya news value yang sangat tinggi. Ada kepuasan profesional ketika mereka berhasil merekam dinamika riil yang sedang terjadi di balik layar.
Titik Jenuh: Ketika Publik Mulai Muak
Masalahnya, kalau adagium bad news is good news ini dipakai tanpa takaran, media sebenarnya sedang meracuni pembacanya sendiri.
Eksploitasi konflik yang berlebihan bikin pembaca mengalami news fatigue (kelelahan membaca berita) dan learned helplessness (rasa apatis). Ketika setiap hari disuguhi narasi bahwa setiap musyawarah selalu diwarnai kericuhan, publik akhirnya cuma bilang, "Ah, ribut lagi, ribut lagi," lalu memilih menutup aplikasi berita.
Hemat saya industri media harus mulai berbenah lewat apa yang disebut jurnalisme solusi (solutions journalism).
Jurnalisme solusi bukan berarti berpura-pura tidak ada aksi pendobrakan gerbang atau menutup-nutupi konflik. Kericuhan itu tetap wajib diberitakan secara jujur. Tapi bedanya, jurnalisme solusi tidak berhenti di sensasi keributannya saja. Media harus berani melangkah lebih jauh: membedah apa akar perbedaan gagasannya, bagaimana mekanisme organisasi menyelesaikannya, dan apa dampaknya buat warga di tingkat akar rumput.
Pada akhirnya, kita tetap butuh media yang galak membongkar keretakan kekuasaan, tanpa harus kehilangan kacamata untuk merekam jutaan kebaikan yang sedang dikerjakan secara tekun oleh masyarakat.



