Jakarta, MCNID.net--Bank Indonesia (BI) menilai gagasan pembentukan Danantara Syariah memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan pengelolaan aset-aset syariah, khususnya wakaf, agar menjadi penggerak utama ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.


Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dr Dadang Muljawan, usai menjadi narasumber dalam Sidang Pleno XVI Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).


Dadang menjelaskan, meski Danantara Syariah masih berupa gagasan awal, keberadaannya berpeluang menjadi akselerator dalam membenahi tata kelola (governance) sumber pendanaan syariah yang selama ini belum tergarap maksimal.


"Kalau ide mengenai Danantara Syariah, kita baru dengar. Mudah-mudahan ini bisa menjadi suatu lembaga yang menjadi akselerator. Kalau ini bisa meningkatkan governance sumber pendanaan, maka aset-aset yang selama ini belum optimal bisa lebih diupayakan," ujarnya.


Ia mencontohkan ribuan aset wakaf di Indonesia yang mayoritas belum sepenuhnya produktif. Melalui sistem tata kelola yang kuat dan terintegrasi di bawah Danantara Syariah, aset-aset idle tersebut dapat diubah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah.


Optimalisasi wakaf tak sekadar mendorong produktivitas, tetapi juga berfungsi sebagai jaring pengaman ekonomi (economic safety net) saat perekonomian menghadapi tekanan global. Dadang menunjuk keberadaan pesantren yang berdiri di atas tanah wakaf sebagai bukti nyata kontribusi wakaf dalam menyediakan layanan dasar murah, seperti pendidikan dan pemenuhan kebutuhan pokok.


"Dengan adanya aset-aset murah, kita akan kuat, baik saat ekonomi sedang baik maupun ketika berada dalam tekanan eksternal," tutur Dadang.


Selain optimalisasi wakaf melalui Danantara Syariah, Bank Indonesia juga terus mendorong pemberdayaan ekonomi syariah melalui program virtual market antarpesantren guna memperkuat rantai pasok nasional dan menekan ketergantungan pada produk impor.