Jakarta, MCNID.net— Banjir dahsyat yang melanda kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet, China, telah menewaskan sedikitnya 1.384 orang dan membuat lebih dari 5.500 lainnya masih dinyatakan hilang.
Dua belas hari setelah bencana, tim penyelamat masih berpacu mencari korban di tengah medan pegunungan yang sulit, cuaca buruk, akses yang rusak, serta lumpur yang menimbun sejumlah fasilitas, termasuk terowongan pembangkit listrik tenaga air.
Di Nepal, sekitar 4.996 orang masih dalam pencarian. Sementara di Tibet, China, 43 orang dilaporkan meninggal dan 519 lainnya masih hilang. Meski pencarian telah berlangsung hampir dua pekan, harapan menemukan korban selamat belum sepenuhnya pupus (Saduran dari laporan Al Jazeera, 6 September 2026.)
Di tengah tragedi tersebut, Pemerintah Nepal menyerukan tanggung jawab negara-negara yang memiliki emisi gas rumah kaca besar. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal menilai negara-negara dengan emisi historis tinggi memiliki tanggung jawab terhadap negara-negara rentan yang menghadapi dampak perubahan iklim.
“(harus ada) tanggung jawab historis untuk memberikan kompensasi kepada negara-negara rentan seperti Nepal,” kata Shisir Khanal, sebagaimana dikutip Al Jazeera (6/9/2026).
Khanal mengatakan, Nepal telah mengirimkan surat klaim kompensasi iklim kepada mitra internasional. Tuntutan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim di kawasan Himalaya.
Penyebab pasti runtuhnya gletser yang diduga berkaitan dengan bencana ini masih dalam penyelidikan. Namun, laporan Al Jazeera mengutip penelitian PBB yang menyebut banjir akibat danau glasial kini terjadi hampir lima kali lebih sering dibandingkan sejak 1950.
Penasihat Kelompok Negara-Negara Terbelakang PBB untuk isu perubahan iklim, Manjeet Dhakal, mengatakan negara-negara rentan sering kali harus menanggung sendiri biaya akibat bencana.
“Banjir ini tidak disebabkan oleh apa yang telah dilakukan Nepal di masa lalu maupun saat ini. Di situlah komunitas global memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk hadir,” ujarnya.
Selain itu, Nepal juga meminta dukungan melalui mekanisme Fund for Responding to Loss and Damage, yang dibentuk untuk membantu negara-negara berkembang menghadapi kerugian akibat perubahan iklim.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya mengajukan bantuan sekitar 50 juta dolar AS untuk membantu lebih dari 84.000 orang terdampak.



