Jakarta, MCNID.net--Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa) di Pasuruan, Jawa Timur, terus menunjukkan wajah baru pendidikan Islam di Indonesia. Tak sekadar mempertahankan tradisi keilmuan Islam, pesantren ini sukses membangun ekosistem belajar yang modern, canggih, dan mandiri hingga mendapat apresiasi tinggi dari Menteri Agama KH Nasaruddin Umar. 


Saat meninjau fasilitas pondok pada Ahad (2/8/2026), Menteri Agama mengaku terpana dengan kemajuan yang dicapai pesantren asuhan Al-Habib Segaf bin Hasan Baharun bersama Abuya Al-Habib Zein Baharun dan Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun ini.


"Ini adalah sebuah pondok pesantren yang sangat membanggakan bangsa Indonesia. Selain pondoknya megah, materi ajarnya sangat bagus, fasilitasnya luar biasa, perpustakaannya, semuanya serba cantik," ujar Menag diliputi decak kagum.


Sisi modernitas Dalwa terlihat nyata dari infrastruktur pendidikannya. Taman baca pesantren dirancang nyaman dan instagrammable, lengkap dengan Digital Smart Board serta sistem katalog digital OPAC (Online Public Access Catalog). Ruang kelas berbasis multimedia dan laboratorium komputer hadir berdampingan dengan perpustakaan yang menyimpan beragam literatur klasik maupun pengetahuan modern.


Selain sarana fisik, Dalwa menerapkan sistem pembinaan bakat secara terstruktur melalui Lajnah Divisi Kreativitas. Bakat para santri digali dan diasah, mulai dari seni musik, pidato, public speaking, hingga penguasaan teknologi.


Ciri khas lain dari santri Dalwa adalah kemampuan berbahasa asing yang mumpuni. Selain wajib menggunakan bahasa Arab dalam keseharian, santri diperkaya dengan fasilitas English Area serta program bahasa Mandarin.


Kemandirian Ponpes Dalwa juga dibuktikan melalui operasional berbagai unit usaha internal. Kompleks pesantren ini dilengkapi dengan Dalwa Mall, Dalwa Collection, Boutique Hubabah, layanan optik, poliklinik, koperasi, unit percetakan, hotel, hingga kafe. 


Kehadiran unit-unit usaha ini tidak hanya menjadi simbol kemandirian finansial pesantren, tetapi juga menjadi wadah praktis bagi para santri untuk mengasah keterampilan manajemen dan kewirausahaan (entrepreneurship).


Meski melaju pesat dengan fasilitas modern, Dalwa tetap kokoh menjaga identitas salafnya. Pembelajaran di Dalwa menyeimbangkan tiga kurikulum sekaligus, yakni kurikulum kepesantrenan (salaf), kurikulum nasional, dan kurikulum internal pondok.


Menag berharap keterpaduan ini dapat melahirkan alumni yang tak hanya berwawasan luas, tetapi juga menjadi pencerah bangsa yang mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 


"Di sini ada kombinasi yang sangat bagus. Perpaduan antara nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai kebangsaan, dan adat istiadat lokal," tutur Menag saat menutup kunjungannya dalam acara Malam Cinta Pesantren.